Selama bertahun-tahun, pasar ponsel Amerika Serikat (AS) didominasi oleh Apple dan Samsung. Bersama Google, mereka membentuk standar apa itu ponsel pintar dan kemampuannya. Mereka mendorong batas-batas fotografi mobile, perangkat lunak, dan kekuatan pemrosesan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kedua perusahaan ini cenderung melakukan iterasi daripada inovasi.
Sementara itu, perusahaan teknologi China justru terus melaju. Akibatnya, kini terjadi jurang pemisah antara ponsel yang tersedia di AS dengan yang ada di negara lain. Konsumen AS seolah-olah tertinggal dalam hal fitur dan teknologi terbaru.
Sebagian besar kesalahan atas kesenjangan ini dapat dikaitkan dengan Apple. Pasalnya, pasar seringkali mengikuti jejak Apple. Dalam beberapa tahun terakhir, Apple terlihat lebih fokus pada peningkatan kecil daripada terobosan besar.
Contohnya, sementara ponsel flagship di China sudah dilengkapi dengan layar lipat, pengisian daya super cepat, dan kamera dengan resolusi tinggi, ponsel di AS masih berkutat pada inovasi yang sudah ada. Konsumen AS bahkan tidak bisa menikmati fitur-fitur seperti layar 200MP, pengisian daya 240W, atau teknologi pengisian nirkabel reverse charging yang sudah umum di pasar global.
Perusahaan-perusahaan China seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo telah mengambil alih tongkat estafet inovasi. Mereka tidak hanya menawarkan spesifikasi yang lebih tinggi dengan harga yang lebih terjangkau, tetapi juga memperkenalkan teknologi yang belum tersedia di AS. Misalnya, Oppo telah meluncurkan ponsel dengan layar miring pertama di dunia, sementara Xiaomi menawarkan sistem pendingin canggih untuk performa yang lebih stabil.
Konsumen AS pun merasa dirugikan. Mereka tidak hanya kehilangan akses terhadap teknologi terbaru, tetapi juga harus membayar lebih mahal untuk fitur-fitur yang seharusnya sudah standar di negara lain. Situasi ini semakin memprihatinkan mengingat harga ponsel flagship di AS sudah sangat tinggi.
Para ahli industri menilai, lambatnya inovasi di AS disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, pasar AS yang sudah matang membuat perusahaan lebih fokus pada profitabilitas daripada terobosan. Kedua, regulasi yang ketat terkadang menghambat pengenalan teknologi baru. Ketiga, kurangnya persaingan yang sehat akibat dominasi Apple dan Samsung membuat dorongan untuk berinovasi semakin melemah.
Jika situasi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin konsumen AS akan semakin tertinggal. Sementara negara-negara lain menikmati kemajuan teknologi yang pesat, AS justru terperangkap dalam siklus inovasi yang lambat. Hal ini tentu akan berdampak pada daya saing industri teknologi dalam negeri.