Konflik yang memutus jalur pelayaran di Selat Hormuz telah memicu guncangan energi global dan krisis ekonomi yang semakin dalam. Namun, kini masyarakat dapat merasakan dampaknya secara interaktif melalui permainan daring Bottleneck. Game ini menempatkan pemain sebagai koordinator maritim fiktif yang harus memilih kapal mana saja yang diizinkan melintasi selat setiap harinya.
Dengan lebih dari 2.000 kapal terjebak di sekitar Selat Hormuz, pemain dihadapkan pada pilihan sulit yang sarat konsekuensi. Setiap keputusan, mulai dari membayar tol kepada pemerintah Iran hingga mengambil risiko memicu eskalasi konflik dengan Amerika Serikat, berpotensi memperburuk krisis yang ada. Kegagalan dalam mengelola pengiriman barang penting dapat memicu krisis harga minyak, pangan, dan air bersih, bahkan mempercepat ancaman kelaparan di berbagai negara.
Jakub Gornicki, jurnalis dan seniman yang menciptakan game ini, menekankan bahwa Bottleneck tidak dirancang untuk menemukan solusi sempurna. "Permainan ini tidak menanyakan apakah Anda cukup pintar untuk menyelesaikan krisis," ujarnya dalam sebuah pernyataan. "Ia justru menanyakan jenis kerusakan apa yang Anda pilih ketika setiap opsi memiliki biaya yang mahal."
Game ini menggabungkan data transit maritim aktual dan laporan berita terkini untuk menciptakan pengalaman yang lebih realistis. Pemain tidak hanya diminta untuk mengambil keputusan strategis, tetapi juga menghadapi konsekuensi nyata dari setiap tindakan yang diambil. Dengan demikian, Bottleneck tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga alat pembelajaran tentang kompleksitas pengelolaan krisis global.
Melalui permainan ini, pemain diajak untuk memahami betapa sulitnya mengambil keputusan dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Setiap pilihan yang dibuat tidak hanya berdampak pada skenario permainan, tetapi juga mencerminkan realitas geopolitik yang terjadi di Selat Hormuz saat ini.