Dalam beberapa tahun terakhir, industri anime didominasi oleh produksi dengan nilai estetika tinggi, episode yang terbatas, dan tekanan untuk memberikan dampak instan. Semua ini dirancang untuk mempertahankan pelanggan layanan streaming dengan menawarkan konten yang terasa 'prestise'—cepat, spektakuler, dan tanpa jeda. Namun, di tengah arus tersebut, muncul fenomena menarik: anime dengan nuansa retro yang membawa kembali kenikmatan menonton cerita dengan tempo yang lebih santai.

Luke Plunkett, salah satu pendiri Aftermath, pernah menulis tentang bagaimana anime tidak lagi dibuat seperti dulu. Meskipun pernyataan itu masih relevan, kini ada perubahan halus. Sebuah gelombang baru anime dengan sentuhan retro mulai bermunculan, mengingatkan para penggemar pada karya-karya legendaris yang pernah mendefinisikan medium ini.

Tekanan Industri yang Memunculkan Ruang untuk Kembali ke Akar

Industri televisi global—termasuk anime—telah berubah drastis sejak era streaming. Produser kini dituntut untuk menciptakan konten yang tidak hanya berkualitas tinggi tetapi juga mampu menarik perhatian dalam waktu singkat. Anime musimannya kini hanya diberi 12 episode untuk 'membuktikan diri'. Para penggemar mengharapkan percepatan plot, pertunjukan spektakuler, dan tidak ada waktu untuk jeda. Setiap episode menjadi ujian, dengan ulasan mingguan yang menilai apakah sebuah anime layak dilanjutkan atau hanya menjadi bahan cemoohan.

Tekanan ini menciptakan generasi penonton yang reaktif. Jika sebuah anime tidak menghadirkan aksi spektakuler dalam setiap momen, penggemar dengan cepat menudingnya sebagai 'pengisi waktu' atau bahkan 'sengaja dibuat buruk'. Namun, ironisnya, tekanan untuk menciptakan produk 'prestise' justru membuka ruang bagi anime yang terasa seperti dulu—dengan cerita yang berkembang alami, tanpa terburu-buru.

Mao dan Daemons of the Shadow Realm: Dua Anime yang Menghidupkan Kembali Semangat Retro

Di tengah tren ini, dua anime baru berhasil mencuri perhatian karena nuansa retro yang mereka hadirkan: Mao dari studio Sunrise dan Daemons of the Shadow Realm dari Bones. Keduanya tidak hanya diproduksi oleh studio-studio veteran—yang juga melahirkan karya-karya klasik seperti Cowboy Bebop dan Fullmetal Alchemist—tetapi juga mengadaptasi manga dari legenda seperti Rumiko Takahashi dan Hiromu Arakawa.

Apa yang membuat kedua anime ini istimewa bukan hanya latar belakangnya, tetapi bagaimana mereka menghidupkan kembali kualitas yang membuat anime retro terasa begitu istimewa: cerita yang mengalir alami, tempo yang santai, dan gaya visual yang khas.

Daemons of the Shadow Realm: Sebuah Mahakarya yang Menolak Kotak

Meskipun terdaftar sebagai anime bergenre aksi, petualangan, dan fantasi di MyAnimeList, Daemons of the Shadow Realm menolak untuk dimasukkan ke dalam satu kotak genre. Dalam 24 episode pertamanya, Bones berhasil menciptakan sebuah shonen yang memadukan unsur slice-of-life, kekerasan fantasi gelap, humor manga, dan ritme drama supernatural.

Yang lebih menarik, anime ini tidak terburu-buru dalam membangun dunia dan suasana. Setiap episode terasa seperti bagian dari perjalanan yang utuh, bukan sekadar pengisi waktu. Meskipun awalnya terlihat sebagai anime aksi biasa, twist besar di episode pertama—yang sayangnya tidak bisa diungkapkan di sini—hanya menjadi permulaan dari plot yang sangat rumit dan terstruktur dengan baik.

Inilah yang membuat Daemons of the Shadow Realm terasa seperti anime lama yang tidak takut untuk mengambil waktu dalam mengembangkan karakter dan cerita. Alih-alih memaksakan aksi konstan, anime ini membiarkan setiap momen terasa berharga, seolah-olah setiap adegan memiliki tujuan sendiri.

Mao: Kembalinya Cerita dengan Tempo yang Tenang

Mao, di sisi lain, juga menonjol dengan pendekatannya yang lebih lambat dan reflektif. Anime ini mengikuti kisah seorang mahasiswa yang secara misterius terlempar ke dalam dunia fantasi, di mana ia bertemu dengan makhluk-makhluk supernatural. Berbeda dengan anime modern yang sering kali terburu-buru, Mao mengambil waktu untuk membangun dunia dan karakter-karakternya.

Gaya visualnya yang terinspirasi oleh anime tahun 1980-an dan 1990-an juga turut memperkuat nuansa retro. Dengan animasi yang lebih sederhana namun penuh ekspresi, Mao berhasil menciptakan suasana yang hangat dan nostalgia, seolah-olah kita sedang menonton anime klasik yang diproduksi kembali dengan sentuhan modern.

Apakah Ini Awal Kebangkitan Anime Retro?

Munculnya anime seperti Mao dan Daemons of the Shadow Realm menunjukkan bahwa ada ruang bagi cerita-cerita yang tidak terburu-buru. Di tengah tekanan industri untuk menciptakan konten yang 'instan', kedua anime ini membuktikan bahwa penonton masih menghargai karya-karya yang membangun suasana dan karakter dengan perlahan.

Mungkin, ini adalah tanda bahwa industri anime mulai menyadari bahwa tidak semua cerita perlu disampaikan dalam 12 episode. Kadang-kadang, yang dibutuhkan hanyalah waktu—waktu untuk menikmati setiap momen, setiap adegan, dan setiap detail yang membuat sebuah cerita terasa hidup.

Jika tren ini terus berlanjut, kita mungkin akan melihat lebih banyak anime dengan nuansa retro di masa depan. Dan bagi para penggemar yang merindukan masa lalu, itu adalah kabar baik.

Sumber: Aftermath