Jeruk Florida: Dari Raja hingga Hampir Punah
Di tengah suasana hening yang meliputi ruangan, acara Florida Citrus Show 2026 dimulai. Seorang pembicara membuka acara dengan nada datar, "Hari ini seharusnya menyenangkan. Hujan seharusnya tidak turun, meskipun kami sangat membutuhkannya." Tak ada yang tertawa. Semua tahu kondisinya buruk. Bukan suasana yang suram—petani jeruk terbiasa dengan rasa asam—melainkan sesuatu yang lebih dalam. Seperti suasana pasca-apokaliptik.
Florida tengah mengalami kekeringan terparah dalam 25 tahun terakhir. Namun, bagi para petani jeruk yang kelelahan, kekeringan hanyalah salah satu dari banyak masalah yang mereka hadapi. Saat ini, lebih mudah menemukan gambar jeruk di plat nomor Florida—yang berjumlah 18 juta—daripada melihat sebungkus jeruk asli di pasar.
Produksi Jeruk Florida Anjlok 95% dalam Dua Dekade
Pada tahun 2003, industri jeruk Florida memproduksi 242 juta kotak jeruk, dengan berat sekitar 90 pon per kotak. Sebagian besar digunakan untuk membuat jus jeruk. Kini, hanya dalam waktu kurang dari 25 tahun, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan produksi hanya mencapai 12 juta kotak—jumlah terendah dalam lebih dari satu abad. Penurunan produksi lebih dari 95%.
Matt Joyner, CEO Florida Citrus Mutual, organisasi dagang terbesar di negara bagian tersebut, meragukan angka tersebut. "Dua belas juta? Saya ragu," katanya. Bahkan, ada spekulasi bahwa produksi bisa lebih rendah lagi, hanya sekitar 11 juta kotak. "Mungkinkah totalnya hanya tujuh digit?" tanyanya.
Rick Dantzler, Direktur Operasional Citrus Research and Development Foundation, naik ke podium dengan nada tegas. "Tahun ini benar-benar seperti tahun sampah," ujarnya. Ia menyebutkan sejumlah masalah yang dihadapi, mulai dari penerapan tarif dan pembalasan tarif, penutupan pemerintah, hingga gelombang dingin bersejarah pada akhir Januari dan awal Februari yang merusak pohon jeruk yang sudah rapuh.
Namun, semua itu hanyalah catatan kaki dibandingkan dengan masalah yang lebih besar: penyakit greening jeruk.
Penyakit Greening: Musuh Abadi Jeruk Florida
Pada tahun 2005, Florida mendeteksi penyakit baru di perkebunan jeruknya yang disebut citrus greening disease atau Huanglongbing (HLB) dalam bahasa Cina, karena penyakit ini berasal dari Cina—tempat jeruk pertama kali ditemukan. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri yang disebarkan oleh serangga psyllid Asia, yang diketahui pertama kali muncul di dekat Pelabuhan Miami pada tahun 1998.
Penyakit ini menyebabkan daun jeruk menguning, buah menjadi asam, dan akhirnya pohon mati. Hingga saat ini, sekitar tiga perempat petani jeruk di Florida telah gulung tikar. Mereka yang tersisa, para petani yang bertahan, hadir di acara Florida Citrus Show untuk membicarakan masalah yang sesungguhnya: bagaimana menyelamatkan industri jeruk dari kepunahan.
"Kami telah kehilangan sebagian besar petani jeruk. Sekarang, kami hanya memiliki sisa-sisa yang berjuang keras. Penyakit greening telah menghancurkan perkebunan kami selama dua dekade. Tanpa solusi yang efektif, industri ini tidak akan bertahan," ujar seorang petani yang enggan disebutkan namanya.
Dampak Global dan Masa Depan yang Suram
Penurunan produksi jeruk Florida tidak hanya berdampak pada industri lokal, tetapi juga pada pasokan jus jeruk global. Amerika Serikat, yang dulunya menjadi produsen terbesar, kini harus mengimpor jeruk dari negara-negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Persaingan dari Brasil, Meksiko, dan Spanyol semakin memperparah kondisi ini.
Perubahan iklim juga memainkan peran penting. Kekeringan yang berkepanjangan, suhu ekstrem, dan serangan hama semakin menyulitkan petani untuk mempertahankan perkebunan. Para ahli memperkirakan bahwa tanpa inovasi besar dalam pengendalian penyakit dan adaptasi terhadap perubahan iklim, industri jeruk Florida bisa benar-benar hilang dalam beberapa dekade mendatang.
Saat ini, Florida masih menjadi simbol jeruk di Amerika Serikat—tercermin dari plat nomor kendaraan yang menghiasi jalan-jalan. Namun, tanpa tindakan nyata, simbol itu mungkin hanya akan menjadi kenangan belaka.