Kisah Andy Sachs Kembali ke Runway Magazine

Setelah 20 tahun berlalu sejak film pertama, 'The Devil Wears Prada 2' kini hadir dengan cerita yang menyegarkan. Film produksi 20th Century Studios ini mengisahkan perjalanan Andy Sachs (Anne Hathaway), yang kini telah menjadi jurnalis serius. Namun, setelah serangkaian peristiwa buruk, ia kembali ke majalah Runway—bukan lagi sebagai asisten, melainkan sebagai editor fitur.

Miranda Priestly (Meryl Streep) masih memimpin majalah tersebut dengan Nigel (Stanley Tucci) sebagai tangan kanannya. Namun, di era modern ini, Runway mengalami kesulitan layaknya banyak media cetak lainnya. Film ini berhasil menangkap perjuangan para jurnalis dalam menghadapi tantangan tersebut.

Resonansi terhadap Kondisi Jurnalisme Modern

Banyak kritikus mengapresiasi bagaimana film ini menyoroti kondisi jurnalisme saat ini. Tomris Laffly menulis, "Tidak menyangka jika bagian dari #TheDevilWearsPrada2 terasa seperti dokumenter tentang keadaan menyakitkan jurnalisme. Senang karena film mainstream ini mengangkat realitas mendesak tersebut."

Randy Jones menyebutnya sebagai "refleksi satir yang tajam tentang kondisi jurnalisme modern yang semakin memburuk, di mana banyak media berjuang di bawah kendali pemilik teknologi tanpa visi."

Pujian untuk Para Pemeran

Para kritikus sepakat bahwa kembalinya para pemeran asli—Anne Hathaway, Meryl Streep, Emily Blunt, dan Stanley Tucci—sangat memukau. Matt Neglia dari NextBestPicture menyatakan, "Sulit membayangkan penggemar film pertama kecewa dengan The Devil Wears Prada 2. Film ini lucu, memikat, dan penuh dengan momen-momen mengharukan."

Tanggapan yang Beragam

Meskipun banyak yang memuji film ini, ada juga kritik mengenai narasi yang dirasa kurang kuat. Courtney Howard menulis, "Di luar sorotan yang patut diapresiasi terhadap jurnalisme, narasi dalam film ini tidak terasa sepadat yang diharapkan. Terasa seperti rangkaian cerita tipis yang tidak terhubung dengan baik."

Namun, secara keseluruhan, film ini tetap dianggap sebagai sekuel yang layak ditunggu, dengan pesona dan pesan yang relevan di era digital saat ini.

Sumber: The Wrap