Kritik Film: 'Propeller One-Way Night Coach' — Karya yang Tak Layak Disebut Film

John Travolta mencoba peruntungan sebagai sutradara dengan film 'Propeller One-Way Night Coach', adaptasi dari novel anak-anaknya tahun 1997. Namun, alih-alih menjadi karya sinematik yang layak ditonton, film ini malah menjadi bencana. Bukan hanya gagal sebagai film, 'Propeller One-Way Night Coach' bahkan tak layak disebut sebagai tontonan.

Kisah Tanpa Konflik dan Karakter yang Dangkal

Film ini mengikuti perjalanan Jeff (Clark Shotwell), seorang anak yang untuk pertama kalinya merasakan terbang dengan pesawat. Namun, alih-alih menyuguhkan cerita yang menarik, film ini justru terasa kosong. Tidak ada konflik, tidak ada karakter yang berkembang, dan tidak ada tema yang mendalam. Setiap adegan terasa dangkal, seolah-olah hanya potongan-potongan ingatan yang disusun tanpa makna.

Travolta, yang juga mengisi suara narasi, berusaha keras untuk menyampaikan nostalgia masa kecilnya melalui Jeff. Namun, upaya tersebut gagal total. Jeff tidak pernah terasa sebagai karakter yang nyata, melainkan hanya boneka yang mewakili nostalgia Travolta terhadap era Jet Set. Bahkan momen-momen flashback yang seharusnya memberikan kedalaman emosional hanya berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak.

Visual dan Suara yang Menghambat

Dari segi teknis, film ini juga gagal. Pembukaan film yang menggunakan animasi terlihat seperti presentasi PowerPoint murahan. Sementara itu, efek visual yang tidak selesai dan skor musik yang berlebihan justru menambah ketidaknyamanan. Skor musik yang terlalu manis dan mengganggu malah merusak suasana yang ingin disampaikan.

Film ini tayang perdana di Festival Film Cannes 2024, namun langsung menuai kritik keras. Bahkan dengan durasi hanya 60 menit, film ini terasa begitu panjang dan tidak memberikan kepuasan emosional.

Kesimpulan: Sebuah Kegagalan yang Tak Perlu Diingat

Travolta mungkin berharap 'Propeller One-Way Night Coach' akan menjadi karya pribadi yang menyentuh. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Film ini tidak memiliki pesan yang jelas, tidak memiliki karakter yang menarik, dan tidak memiliki nilai sinematik. Alih-alih mengajak penonton untuk memahami Jeff dan perasaannya, Travolta justru membuatnya menjadi simbol nostalgia yang tidak terjelaskan.

Dengan segala kekurangannya, 'Propeller One-Way Night Coach' lebih pantas disebut sebagai kegagalan yang tak layak diingat daripada sebuah karya seni.

"Film ini bukan hanya gagal sebagai film, tapi juga gagal sebagai tontonan. Travolta mencoba terlalu keras untuk menyampaikan nostalgia, namun yang terjadi justru sebaliknya — tidak ada yang tersisa kecuali kekecewaan."
Sumber: The Wrap