Film ‘Clarissa’, karya kedua sutradara Arie dan Chuko Esiri setelah sukses dengan ‘Eyimofe (This Is My Desire)’, hadir sebagai karya yang memadukan unsur lama dan baru. Melalui alur cerita yang terbelah, film ini melompat-lompat antar dekade untuk menyoroti sekelompok karakter yang tengah menghadapi pergeseran waktu. Adaptasi novel klasik Virginia Woolf, ‘Mrs Dalloway’, yang dialihsettingkan ke Nigeria modern, tidak hanya menghadirkan latar budaya yang kaya, tetapi juga menyegarkan tema-tema sentral karya Woolf—terutama refleksi tentang kolonialisme.
Judul film yang sengaja menggunakan nama depan tokoh utama, Clarissa, bukannya nama belakangnya, menjadi petunjuk awal akan kekuatan terbesar film ini: penampilan luar biasa Sophie Okonedo. Okonedo, yang sebelumnya mencuri perhatian dalam film ‘Janet Planet’, memerankan Clarissa dewasa dengan keanggunan tegar dan kesedihan yang tersembunyi. Ketenangan yang ditampilkan Clarissa perlahan terungkap sebagai topeng untuk menyembunyikan ketakutannya akan keterasingan dan hilangnya identitas dirinya.
Saat kilas balik memperlihatkan Clarissa muda (diperankan oleh India Amarteifio yang juga memukau), perbedaan antara keduanya begitu mencolok. Clarissa muda mungkin akan merasa ngeri melihat dirinya di masa depan, sementara Clarissa dewasa justru menahan perasaan serupa. Film yang tayang perdana di Cannes Film Festival akhir pekan lalu ini kemudian meluas dengan mengeksplorasi kehidupan berbagai karakter yang saling bersinggungan, layaknya aliran air yang mengalir bebas dalam urutan sinematik yang memesona dan melankolis, hasil karya sinematografer Jonathan Bloom.
Karakter-karakter lain dalam film ini antara lain Richard (Jude Akuwudike), suami Clarissa; Peter (Toheeb Jimoh dan David Oyelowo), seorang penulis yang pernah dan mungkin masih dicintai Clarissa; Sally (Ayo Edebiri dan Nikki Amuka-Bird), wanita yang memiliki hubungan mendalam dengan Clarissa; serta Septimus (Fortune Nwafor), seorang veteran yang bergumul dengan trauma akibat kekerasan yang pernah dilihatnya.
Editor Blair McClendon (‘Aftersun’) dengan piawai menyambungkan potongan adegan antar karakter, memastikan setiap tokoh tergambarkan dengan mendalam. Meskipun banyak hal yang tak terucapkan, sinematografi film ini memastikan penonton memahami setiap karakter secara utuh. Film ini tetap selaras dengan alam, menangkap ritme kehidupan para tokoh yang bergerak di dalamnya, tanpa pernah melepaskan fokus dari Clarissa yang memikat karya Okonedo.
Arie dan Chuko Esiri berhasil menciptakan nada yang puitis sekaligus menyayat hati saat Clarissa dihadapkan pada kenyataan hidupnya. Dengan penggambaran yang halus namun tajam, ‘Clarissa’ bukan sekadar adaptasi, melainkan refleksi mendalam tentang perubahan, identitas, dan warisan masa lalu.