Di akhir film Rogue One: A Star Wars Story, setelah semua pahlawan gugur dalam misi mereka, Darth Vader muncul untuk menghancurkan sekelompok pemberontak. Dalam sekejap, ia menebas musuh dengan pedang cahaya, menindas lawan dengan Kekuatan, dan memblokir tembakan laser. Namun, bahkan dalam momen spektakuler itu, Vader tak sehebat Admiral Motti—tokoh yang diperankan Richard LeParmentier dalam film Star Wars pertama.

Meskipun tidak banyak yang mengenal namanya, sebagian besar penonton pasti hafal salah satu ucapannya: “Stasiun ini kini adalah kekuatan terbesar di alam semesta! Saya sarankan kita gunakan ini.” Motti akhirnya dicekik oleh Vader dan hancur dalam ledakan Death Star. Itulah yang membuatnya begitu menakutkan. Ia bukanlah seorang penyihir ruang angkasa yang korup, melainkan manusia biasa yang dengan gembira mendukung genosida massal.

Motti hanyalah satu dari sekian banyak antagonis biasa dalam jagat Star Wars. Mereka adalah para birokrat dengan aksen Inggris, rambut menipis, dan sikap acuh tak acuh terhadap penderitaan manusia. Para 'orang kantoran' jahat inilah yang sebenarnya menjadi musuh terbesar dalam dunia Star Wars. Sayangnya, franchise ini perlahan melupakan peran penting mereka.

Birokrat Kehilangan Peran Penting

Di era asli Star Wars, Darth Vader bukanlah tokoh utama. Ia hanya seorang algojo bagi Grand Moff Tarkin. Hubungan masa lalunya dengan Obi-Wan Kenobi menjadikannya ancaman bagi Luke Skywalker, bahkan sebelum hubungan keluarga mereka terungkap. Ketika Putri Leia menyebut Tarkin sebagai 'tuan' Vader, itu bukanlah cercaan, melainkan pengakuan bahwa Vader hanyalah seorang pengikut buta—seorang fanatik aneh yang dipertahankan Tarkin untuk menjalankan tugas tertentu.

Para birokrat tetap hadir sepanjang trilogi asli, terutama Firmus Piett (Kenneth Colley), yang pertama kali muncul sebagai perwira pertama dalam Pertempuran Hoth di The Empire Strikes Back dan kembali sebagai laksamana di Return of the Jedi. Namun, kemunculan Kaisar Palpatine segera menggeser peran mereka. Dengan pengungkapan bahwa Kekaisaran dikendalikan oleh seorang penyihir ruang angkasa yang dapat menyemburkan petir dari jemarinya, Vader berubah dari sosok aneh menjadi pusat cerita. Sejak itu, para birokrat tak lebih dari sekadar figuran yang berdiri di pinggir pertempuran antara pengguna sihir dan sekutunya.

Sejak saat itu, franchise Star Wars tak pernah pulih. Trilogi prekuel mencoba memasukkan unsur birokrasi ke dalam alur utama, seperti negosiasi perdagangan antarplanet, rantai pasokan lintas galaksi, dan aturan legislatif. Namun, semua adegan tersebut melibatkan alien aneh atau Palpatine—yang dimainkan Ian McDiarmid dengan keganasan yang hampir sama. Yang hilang adalah sosok manusia biasa yang melakukan kejahatan demi pekerjaan.

Trilogi Sekuel Tak Kembali ke Akar

Trilogi sekuel juga tak lebih baik. Kylo Ren dipasangkan dengan Jenderal Hux, namun peran Hux perlahan menyusut sepanjang trilogi. Selain itu, Domhnall Gleeson memerankan karakter tersebut sebagai seorang fanatik yang penuh semangat, bukan sebagai manusia biasa yang menjalankan tugas. Tak satu pun dari karakter ini terasa seperti sosok biasa yang melakukan pekerjaannya.

Motti, Piett, dan bahkan tokoh-tokoh birokrasi lainnya adalah musuh yang lebih nyata. Mereka bukanlah makhluk supernatural, melainkan manusia biasa yang memilih untuk mendukung sistem kejam. Kejahatan mereka tak terlihat, namun dampaknya jauh lebih luas. Tanpa mereka, Kekaisaran tak akan berfungsi. Tanpa mereka, genosida dan penindasan tak akan terjadi begitu sistematis.

Sayangnya, Star Wars modern lebih memilih untuk fokus pada pertempuran antara pahlawan dan penjahat super, meninggalkan para 'orang kantoran' jahat yang justru lebih menakutkan.