Harga Bensin Mencapai $4,042 per Galon
Harga rata-rata nasional bensin di Amerika Serikat saat ini mencapai $4,042 per galon, naik signifikan dari tahun lalu. Kenaikan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik, termasuk penutupan sementara Selat Hormuz oleh Iran dan penyitaan kapal kargo Iran oleh AS.
Pendapat Menteri Energi vs Presiden Trump
Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan dalam wawancara di CNN bahwa harga bensin mungkin telah mencapai puncaknya, namun diperkirakan tidak akan turun di bawah $3 per galon hingga akhir tahun ini atau bahkan tahun depan. Ia optimis harga akan menurun setelah perang di Iran berakhir.
Namun, Presiden Trump membantah keras pernyataan tersebut. Dalam wawancara dengan The Hill, ia menyebut Wright “salah total” dan menegaskan harga bensin akan segera turun ke angka $3 begitu konflik Iran selesai. Trump yakin kestabilan pasokan minyak akan segera tercapai.
Konflik Iran Memicu Krisis Pasokan Minyak
Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah AS menyita kapal kargo Iran dan Iran mengancam balas dendam. Situasi ini memburuk karena negosiasi damai terhambat, sementara Selat Hormuz—jalur penting pengiriman minyak global—dinyatakan ditutup oleh Iran.
Menurut Badan Energi Internasional (IEA), perang di kawasan ini menyebabkan “guncangan pasokan minyak terparah dalam sejarah”. Pada Maret, stok minyak global turun drastis sebanyak 85 juta barel, dengan 205 juta barel lainnya terkuras akibat pembatasan aliran minyak melalui Selat Hormuz.
“Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi faktor terpenting dalam meringankan tekanan pasokan, harga, dan ekonomi global.” — Badan Energi Internasional (IEA)
Dampak terhadap Ekonomi dan Politik AS
Kenaikan harga bensin yang tajam ini terjadi menjelang pemilu pertengahan masa jabatan November, yang berpotensi mempengaruhi suara pemilih. Trump menekankan bahwa penurunan harga akan terjadi segera setelah konflik Iran mereda, sementara analis memperingatkan bahwa pemulihan harga bisa memakan waktu lama.
Perubahan harga dari $2,98 menjadi lebih dari $4 dalam waktu sebulan menunjukkan betapa cepatnya krisis ini berdampak pada ekonomi masyarakat. Para ahli memperkirakan pemulihan penuh mungkin tidak terjadi hingga tahun depan, tergantung pada stabilitas geopolitik di kawasan.