Kebijakan Global dalam Sorotan
Krisis energi global semakin memanas minggu ini. Setelah gencatan senjata dua minggu antara Iran, AS, dan Israel diumumkan pada Selasa, harga minyak turun di bawah $96 per barel menurut Associated Press. Namun, volatilitas harga kembali terjadi hanya beberapa jam kemudian setelah serangan terhadap pipa minyak Arab Saudi dilaporkan Reuters.
Peringatan dari Pakar Energi
Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, menyebut krisis energi saat ini sebagai yang terparah dibandingkan dengan krisis tahun 1973, 1979, dan 2022. Dalam wawancara dengan Le Figaro, Birol menyatakan,
"Dunia belum pernah mengalami gangguan pasokan energi dengan skala sebesar ini."
Sementara itu, The Guardian melaporkan bahwa negara-negara pencemar terbesar justru diuntungkan dari kenaikan harga bahan bakar fosil. Namun, tren global menunjukkan peningkatan penggunaan energi terbarukan. South China Morning Post juga melaporkan bahwa diversifikasi sumber energi diperkirakan akan semakin cepat seiring dengan terus terganggunya pasokan energi global akibat perang.
Perkembangan di Berbagai Negara
Inggris dan COP33
Pemerintah Inggris ditekan untuk tidak membuka ladang minyak dan gas baru di Laut Utara, karena dikhawatirkan akan mengancam target iklim internasional. Para ahli mengatakan kepada The Guardian bahwa langkah tersebut dapat membahayakan komitmen iklim global. Sementara itu, India secara resmi menarik tawaran sebagai tuan rumah COP33 pada tahun 2028, dengan alasan evaluasi ulang terhadap komitmen iklimnya, demikian dilaporkan Climate Home News.
Uni Eropa dan AS
Komisioner Energi Uni Eropa, Dan Jørgensen, memperingatkan bahwa blok tersebut tengah bersiap menghadapi guncangan energi jangka panjang akibat perang di Iran. Lima negara anggota UE juga menyerukan penerapan pajak keuntungan luar biasa terhadap perusahaan energi untuk menanggulangi kenaikan harga bahan bakar.
Sementara itu, proposal anggaran AS untuk tahun 2027 yang diajukan Presiden Donald Trump mencakup pemotongan besar-besaran terhadap program energi dan lingkungan, dengan istilah yang digunakan sebagai "penipuan Green New Deal" menurut Los Angeles Times.
Bencana Alam dan Dampak Iklim
Afghanistan Dilanda Bencana
Sejak 26 Maret, setidaknya 148 orang tewas dan 216 lainnya luka-luka akibat banjir, gempa bumi, dan tanah longsor di Afghanistan. Laporan ini disampaikan Reuters.
Spesies Terancam Punah
Perubahan iklim menyebabkan mencairnya es laut, yang berdampak pada penguin kaisar. Organisasi Konservasi Dunia (IUCN) menyatakan spesies ini resmi terancam punah akibat sejumlah besar anak penguin yang tenggelam, demikian dilaporkan The Guardian.
Inovasi dan Tren Energi
Di Inggris, penjualan kendaraan listrik baterai mencapai 86.120 unit pada Maret 2026, mencakup 22,6% pangsa pasar otomotif. Data ini disampaikan oleh Masyarakat Produsen dan Pedagang Mobil (SMMT).
Penelitian Terbaru tentang Iklim
- Lebih dari seperempat penduduk dunia akan menghadapi peristiwa panas dan kering yang lebih sering dan parah pada tahun 2100, jika kebijakan iklim saat ini tetap berlaku. Penelitian ini diterbitkan di Geophysical Research Letters.
- Perubahan iklim akan meningkatkan risiko kebakaran hutan bagi hampir 10.000 spesies menjelang akhir abad ini. Temuan ini dipublikasikan di Nature Climate Change.