Perusahaan rintisan Lime, yang dikenal sebagai salah satu pemain utama dalam industri sewa skuter listrik, kini tengah bersiap untuk meluncurkan penawaran umum perdana (IPO). Langkah ini menandai babak baru dalam perkembangan perusahaan yang telah merambah lebih dari 230 kota di berbagai belahan dunia.
Meskipun demikian, Lime masih menghadapi tantangan besar terkait profitabilitas. Hingga saat ini, perusahaan ini belum mampu mencatatkan laba, meskipun operasionalnya telah menyebar luas secara global. Ekspansi yang agresif selama beberapa tahun terakhir telah menjadikan Lime sebagai salah satu merek terkemuka dalam kategori transportasi berbagi (sharing economy), namun pertumbuhan tersebut belum diimbangi dengan pendapatan yang stabil.
Menurut laporan keuangan terbaru, Lime terus mencatatkan kerugian meskipun pendapatan tahunannya meningkat. Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya operasional, termasuk pemeliharaan armada skuter, investasi teknologi, serta persaingan ketat di pasar transportasi ramah lingkungan. Perusahaan ini juga menghadapi tekanan dari regulator di beberapa negara terkait regulasi penggunaan skuter listrik di ruang publik.
Para analis industri memandang langkah Lime untuk melakukan IPO sebagai upaya untuk memperkuat posisi keuangannya. Dana yang diperoleh dari penawaran saham perdana diharapkan dapat digunakan untuk memperluas jangkauan pasar, meningkatkan inovasi produk, serta memperkuat daya saing di tengah persaingan dengan pemain lain seperti Bird, Spin, dan Tier.
Dengan rencana IPO ini, Lime berharap dapat menarik minat investor untuk mendukung pertumbuhan jangka panjangnya. Namun, tantangan utama tetap ada, yaitu membuktikan bahwa model bisnisnya dapat berkelanjutan dan menguntungkan di masa depan.