Kekacauan melanda sistem pendidikan di Amerika Serikat pada Kamis (12/12) setelah serangan siber melumpuhkan platform pembelajaran daring Canvas, yang digunakan oleh ribuan sekolah dan perguruan tinggi. Insiden ini terjadi tepat saat mahasiswa dan siswa tengah mempersiapkan ujian akhir semester.

Perusahaan induk Canvas, Instructure, mengumumkan bahwa platform tersebut telah kembali aktif pada Jumat pagi. Namun, perusahaan mengungkapkan bahwa mereka sempat menutup sementara Canvas pada Kamis setelah mendeteksi aktivitas tidak sah dalam jaringannya.

Menurut Instructure, kelompok peretas yang sama dengan yang sebelumnya melakukan pembobolan data yang diumumkan seminggu lalu, diduga bertanggung jawab atas serangan ini. Data yang diakses mencakup nama pengguna, alamat email, nomor identitas siswa, serta pesan-pesan yang pernah dikirim melalui platform. Perusahaan menyatakan tidak ada indikasi bahwa kata sandi, tanggal lahir, identitas pemerintah, atau informasi keuangan terlibat dalam insiden ini.

Ribuan Sekolah dan Perguruan Tinggi Terdampak

Serangan ini memicu kepanikan di kalangan institusi pendidikan. Ribuan sekolah dan perguruan tinggi yang menggunakan Canvas terpaksa menghentikan sementara aktivitas pembelajaran daring, termasuk ujian akhir yang tengah berlangsung. Banyak siswa dan mahasiswa kesulitan mengakses materi dan mengikuti jadwal ujian yang telah ditetapkan.

Kelompok Peretas ShinyHunters Klaim Tanggung Jawab

Dalam sebuah unggahan di situs dark web, kelompok peretas ShinyHunters mengaku bertanggung jawab atas serangan ini. Mereka mengklaim telah mencuri data dari 275 juta orang yang terhubung dengan 8.800 sekolah di seluruh AS. Klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh pihak berwenang.

Instructure menyatakan bahwa mereka sedang melakukan investigasi lebih lanjut untuk mengetahui sejauh mana dampak serangan ini. Perusahaan juga berjanji untuk meningkatkan langkah-langkah keamanan guna mencegah insiden serupa di masa depan.