Startup keamanan siber kuantum, Project Eleven, yang didukung oleh Coinbase Ventures, Balaji Srinivasan, Castle Island Ventures, dan Variant, baru-baru ini mengumumkan pemberian hadiah senilai 1 bitcoin (BTC) kepada seorang peneliti atas klaimnya berhasil membobol kunci kurva eliptik 15-bit pada perangkat keras IBM Quantum.
Dalam siaran persnya, Project Eleven menyebut pencapaian ini sebagai "serangan kuantum publik terbesar" terhadap kriptografi yang melindungi Bitcoin, Ethereum, dan aset digital bernilai lebih dari $2,5 triliun. Namun, klaim tersebut langsung menuai kontroversi setelah beberapa pengembang independen berhasil meniru pencapaian serupa hanya dengan menggunakan komputer klasik biasa.
Salah satu pengembang Bitcoin Core, Jonas Schnelli, bahkan mengungkapkan bahwa ia berhasil mereplikasi proses tersebut dalam 20 baris kode Python tanpa menggunakan komputer kuantum sama sekali. Ia menulis di platform X (sebelumnya Twitter), "Komputer kuantum tidak berkontribusi apa-apa! Jawabannya ditemukan oleh pemeriksa klasik yang menyaring kebisingan acak."
Peneliti independen lainnya, Yuval Adam, juga melakukan eksperimen serupa. Ia mengganti backend IBM Quantum milik pemenang hadiah, Giancarlo Lelli, dengan sumber angka acak dasar Linux, yaitu /dev/urandom. Hasilnya, kunci kriptografi tetap dapat ditemukan dalam jumlah percobaan yang sebanding dengan yang dilakukan oleh Lelli menggunakan perangkat keras kuantum.
Lelli sendiri, dalam dokumentasi GitHub-nya, secara terbuka mengakui bahwa ketika jumlah percobaan cukup besar, kebisingan acak saja sudah cukup untuk menemukan kunci pribadi (private key) dari kunci publik (public key). Ia menulis, "Ketika jumlah percobaan (n) cukup besar, kebisingan acak saja dapat menemukan d dengan probabilitas tinggi."
Meskipun demikian, dewan juri Project Eleven tetap memberikan hadiah BTC kepada Lelli. Klaim ini kemudian menuai kritik luas, bahkan mendapat catatan dari komunitas di platform X yang menyatakan bahwa metode pemulihan kunci tersebut dapat dilakukan tanpa melibatkan komputer kuantum sama sekali.
Alex Bergeron, seorang insinyur dari Ark Labs, menegaskan, "Intinya: tidak ada akuntabilitas. Mereka hanya memamerkan trik sulap."