Makanan Ultra-Processed: Lebih Berbahaya dari yang Diduga

Makanan ultra-processed kini menjadi sorotan para ahli kesehatan karena dampaknya yang luas. Selain meningkatkan risiko obesitas, penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan kematian dini, penelitian terbaru mengungkap tiga risiko kesehatan yang jarang diketahui namun berpotensi serius.

1. Merusak Kesehatan Otot dan Memperburuk Osteoarthritis

Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Radiology menemukan bahwa pola makan tinggi makanan ultra-processed dapat meningkatkan penumpukan lemak di otot paha. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kualitas otot, tetapi juga meningkatkan risiko osteoartritis lutut.

"Selama beberapa dekade terakhir, penggunaan bahan alami dalam makanan semakin berkurang dan digantikan oleh makanan dan minuman olahan industri yang mengandung bahan kimia dan perasa buatan. Hal ini diklasifikasikan sebagai makanan ultra-processed," ujar Dr. Zehra Akkaya, peneliti utama studi tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultra-processed berkorelasi dengan peningkatan lemak intramuskular, terlepas dari asupan kalori harian. Mengurangi konsumsi jenis makanan ini dapat membantu menjaga kualitas otot dan mengurangi risiko osteoartritis.

2. Meningkatkan Risiko Patah Tulang Pinggul hingga 10,5%

Studi lain yang diterbitkan pada Maret menemukan hubungan antara konsumsi makanan ultra-processed dengan penurunan kepadatan tulang dan peningkatan risiko patah tulang pinggul. Temuan ini berlaku untuk semua kelompok usia, termasuk dewasa muda di bawah 65 tahun dan mereka yang memiliki berat badan kurang.

"Dalam studi kami yang melibatkan pengamatan selama lebih dari 12 tahun, asupan tinggi makanan ultra-processed terbukti mengurangi kepadatan mineral tulang di beberapa area, termasuk bagian penting femur atas dan tulang belakang lumbar," jelas Dr. Lu Qi, salah satu penulis studi tersebut.

3. Mengganggu Kesuburan pada Wanita

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultra-processed dapat memengaruhi kesuburan wanita. Meskipun mekanismenya masih diteliti lebih lanjut, para ahli menduga bahwa kandungan bahan kimia dan aditif dalam makanan ini dapat mengganggu sistem hormonal.

Mengapa Makanan Ultra-Processed Begitu Berbahaya?

Selain tiga risiko di atas, makanan ultra-processed juga dikaitkan dengan sifat adiktif yang mirip dengan tembakau. Penelitian yang diterbitkan pada Februari menunjukkan bahwa makanan ini dapat dengan cepat memicu pelepasan zat kimia "perasa enak" di otak, sehingga mendorong konsumsi berlebihan.

Dampak jangka panjang dari konsumsi makanan ultra-processed meliputi:

  • Penyakit kardiovaskular: Meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke akibat kandungan lemak trans dan garam berlebih.
  • Diabetes tipe 2: Peningkatan resistensi insulin akibat konsumsi gula dan karbohidrat olahan.
  • Kematian dini: Pola makan yang buruk berkontribusi pada penurunan harapan hidup.

Langkah Sederhana untuk Mengurangi Risiko

Para ahli merekomendasikan untuk membatasi konsumsi makanan ultra-processed dengan cara:

  • Memilih bahan makanan segar dan alami, seperti buah, sayur, biji-bijian utuh, dan protein tanpa pengolahan berlebih.
  • Membaca label nutrisi untuk menghindari makanan dengan bahan tambahan seperti pengawet, pemanis buatan, dan pewarna.
  • Mengolah makanan sendiri di rumah untuk mengontrol bahan yang digunakan.

Dengan menyadari dampak negatif makanan ultra-processed, masyarakat dapat mengambil langkah proaktif untuk menjaga kesehatan jangka panjang.

Sumber: Healthline