Puisi kerap dianggap sebagai karya manusia semata. Dibutuhkan emosi, keterampilan berbahasa, dan pengalaman hidup yang mendalam—hal yang hanya dimiliki manusia. Namun, klaim tersebut patut dipertanyakan. Puisi hanyalah susunan kata. Dan saat ini, model bahasa besar (LLM) telah terbukti sangat mahir dalam memanipulasi kata-kata.

Untuk membuktikan teori tersebut, saya dan rekan saya, Jared Bauman, membangun sebuah generator puisi berbasis AI. Kami merilisnya secara publik tanpa menyangka akan mendapatkan respons yang begitu luas. Inilah yang terjadi.

Dari kalkulator sederhana hingga karya kreatif

Jared dan saya telah bekerja sama dalam berbagai proyek AI selama bertahun-tahun, termasuk membahas tentang situs kalkulator dalam podcast kami. Situs kalkulator sederhana—seperti konverter teks, penghitung karakter, atau kalkulator hipotek—sering kali menghasilkan lalu lintas dan pendapatan yang sangat tinggi, meski hanya terdiri dari beberapa baris kode.

Dengan kemajuan AI generatif, kami berpikir: bagaimana jika kalkulator tidak hanya melakukan perhitungan matematika, tetapi juga menghasilkan teks kreatif? Misalnya, menulis puisi. Itulah yang kami coba wujudkan.

Membangun generator puisi AI

Kami mendaftarkan domain PoemAIGenerator.com—nama yang sengaja dibuat untuk optimasi mesin pencari. Dengan bantuan ChatGPT, kami membuat antarmuka web sederhana dalam waktu kurang dari satu jam. Saya menggunakan platform Assistants dari OpenAI untuk membangun sistem pembuat puisi berbasis LLM, sementara Jared mengembangkan kerangka SEO situs tersebut.

Platform Assistants memungkinkan kami menciptakan versi khusus ChatGPT yang disesuaikan untuk kebutuhan tertentu, dengan akses melalui API. Ini memberi kami kendali lebih besar untuk mencegah penyalahgunaan, seperti penggunaan untuk tujuan berbahaya.

Kami menetapkan sejumlah aturan ketat untuk generator puisi ini. Sistem ini dirancang untuk:

  • Menolak menghasilkan puisi yang bersifat ofensif atau tidak pantas;
  • Menghindari konten yang mengandung informasi pribadi atau menargetkan individu tertentu;
  • Mengikuti gaya puisi yang diminta pengguna, seperti haiku (17 suku kata) atau iambic pentameter ala Maya Angelou.

Namun, meski telah menerapkan berbagai pembatasan, respons pengguna tetap tak terduga. Beberapa pengguna memanfaatkan generator ini untuk membuat puisi cinta yang indah, sementara yang lain mencoba menghasilkan konten yang melanggar aturan. Proyek ini menunjukkan bahwa AI tidak hanya mampu menciptakan karya sastra, tetapi juga menghadapi tantangan etika dan sosial yang kompleks.