Ketika Deon Nicholas, seorang insinyur perangkat lunak dan pengusaha, menjabat sebagai CEO Forethought—platform otomasi layanan pelanggan—ia memiliki asisten eksekutif untuk mengelola detail pekerjaannya. Ia menyadari betapa pentingnya bantuan tersebut. "Hal itu sangat krusial bagi saya sebagai pemimpin," ujarnya.

Kebanyakan orang di luar lingkungan eksekutif tidak memiliki kemewahan untuk memiliki asisten pribadi yang membantu mengatur jadwal, memprioritaskan email, dan mengendalikan kerumitan kehidupan profesional maupun pribadi. Melihat antusiasme terhadap agen AI, Nicholas berpikir: "Bagaimana jika AI dapat mendemokratisasi bantuan yang begitu berharga ini?"

Dengan Volodymyr Lyubinets, rekan pendiri Forethought (yang diakuisisi Zendesk pada Maret), Nicholas mendirikan Espa Labs untuk mewujudkan visi tersebut. Produk mereka, Espa, diluncurkan pekan lalu dengan harga mulai $25 per bulan atau $240 per tahun, serta masa uji coba gratis selama satu minggu.

Bukan Sekadar Asisten AI Biasa

Konsep menggunakan AI untuk otomasi tugas sehari-hari bukanlah hal baru. Banyak produk seperti Siri atau OpenClaw telah melakukannya. Namun, setelah mencoba Espa selama seminggu, penulis menemukan layanan ini segar, menarik, dan yang terpenting, berguna—seakan memiliki asisten manusia yang siap sedia.

Yang mengejutkan, Espa tidak hadir sebagai aplikasi. Setelah menghubungkan Espa ke Gmail dan Google Calendar serta menjawab beberapa pertanyaan tentang penggunaan, semua interaksi dilakukan melalui pesan—dalam hal ini, iMessage di iPhone. Espa juga mendukung WhatsApp, Slack, dan SMS biasa. Pendekatan ini sesuai dengan tujuan Nicholas untuk mensimulasikan komunikasi dengan asisten manusia.

Lebih dari itu, Espa mengatasi beberapa frustrasi produktivitas AI konvensional. Misalnya, dalam aplikasi seperti Gmail, AI sering terasa lambat. Integrasi yang memungkinkan akses email dan data pribadi dalam chatbot tidak efektif karena pekerjaan bercampur dengan hal-hal pribadi. Dengan Espa, semua percakapan terpusat dalam satu thread iMessage. Saat layanan membutuhkan waktu untuk memproses permintaan, hal itu terasa wajar, layaknya menunggu reaksi manusia.

Siapa yang Membutuhkan Espa?

Nicholas membayangkan Espa dapat dimanfaatkan oleh berbagai profesi, mulai dari jurnalis, agen properti, kreator konten, seniman, hingga atlet. "Memiliki asisten eksekutif AI dapat menjembatani kesenjangan bagi miliaran orang untuk melihat potensi AI agenik," katanya.

Dengan antarmuka yang sederhana dan integrasi yang mulus, Espa menawarkan solusi praktis bagi mereka yang ingin meningkatkan produktivitas tanpa kerumitan aplikasi terpisah. Bagi Nicholas, Espa bukan sekadar alat, melainkan langkah menuju masa depan di mana AI hadir sebagai mitra kerja yang intuitif.