Anna Konkle, komedian yang dikenal melalui serial populer Pen15, kini melangkah lebih jauh dengan merilis memoar barunya berjudul The Sane One. Buku ini mengeksplorasi hubungan kompleksnya dengan sang ayah, termasuk masa-masa perpisahan hingga rekonsiliasi menjelang kematiannya.
Dalam wawancara dengan TheWrap, Konkle mengungkapkan bahwa serial Pen15 hanya menyentuh permukaan cerita keluarganya. "Saat Pen15 tayang, banyak yang bertanya, 'Seberapa dekat dengan kenyataan versi orang tua dalam serial itu?' Saya selalu menjawab, 'Itu mereka, tapi hanya puncak gunung esnya saja,'" kata Konkle.
Menurutnya, Pen15 hanya mampu menampilkan sebagian kecil dari kompleksitas hubungan keluarganya. "Ada banyak lapisan gelap yang menarik minat saya, tapi tidak cukup ruang untuk mengeksplorasi semuanya secara mendalam dalam serial tersebut," jelasnya.
Konkle kemudian memutuskan untuk menuangkan cerita tersebut dalam bentuk buku. "Saat menulis buku, kami hampir menyelesaikan Pen15. Secara tonal, keduanya memiliki kesamaan—komedi yang menyentuh, absurditas, dan keanehan manusia. Tapi buku ini memungkinkan saya untuk lebih terbuka dan eksperimental," ujarnya.
Meskipun ayahnya telah tiada dan tidak bisa memberikan persetujuan, Konkle tetap meminta masukan dari anggota keluarga lainnya. "Saya mengirimkan bab-bab yang melibatkan mereka untuk memastikan mereka merasa nyaman dan tidak keberatan. Sebagian besar keluarga sangat mendukung," katanya.
Ibunya sempat merasa berat karena ayah Konkle tidak lagi ada untuk menyetujui cerita tersebut. "Dia bilang, 'Ini banyak informasi tentang ayahmu yang tidak bisa dia setujui.' Tapi ayah saya sendiri pernah berkata sebelum meninggal, 'Tulislah semuanya.' Itu sangat berarti bagi saya," ungkap Konkle. Ibunya pun akhirnya mendukung, meski dengan perasaan campur aduk. "Dia bilang, 'Ini karya seni dan memorimu. Semoga orang lain juga merasa tidak sendirian,'" tambahnya.
Konkle juga membahas perannya sebagai ibu baru. Ia melahirkan putri pertamanya, Essie, pada awal 2021. "Menjadi ibu membuat saya semakin takut untuk menyelesaikan buku ini. Saya mulai menulis saat hamil, tapi setelah melahirkan, saya merasa frustrasi. 'Mengapa saya terus kembali ke masa lalu? Apa yang membuatku begitu terobsesi?'" kata Konkle.
"Saya bertanya-tanya, seberapa waras seseorang jika terus-menerus terjebak dalam masa lalu? Tapi ketika Essie lahir, saya merasa ada dorongan untuk menyelesaikan cerita ini. Buku ini bukan hanya tentang masa lalu, tapi juga tentang bagaimana masa lalu membentuk masa depan," pungkasnya.