Energi Bersih Menguasai Pertumbuhan Listrik Global
Untuk pertama kalinya sejak pandemi COVID-19, energi bersih berhasil memenuhi seluruh pertumbuhan permintaan listrik global pada tahun lalu. Temuan ini terungkap dalam Laporan Global Electricity Review 2026 yang dirilis oleh Ember, lembaga pemikir energi asal Inggris yang memantau data kelistrikan dari berbagai negara.
Laporan tersebut menyoroti peran sentral solar dan baterai dalam mentransformasi sistem kelistrikan dunia. Teknologi ini tidak hanya tumbuh pesat, tetapi juga mulai mengungguli gas dan batu bara di beberapa ekonomi dengan pertumbuhan tercepat, seperti India dan Pakistan.
Solar Mencetak Rekor Pertumbuhan 30% pada 2025
Dalam wawancara khusus di podcast Shift Key, Nicholas Fulghum, penulis utama laporan Ember dan analis data energi, menjelaskan mengapa solar terus memecahkan rekor. "Bukan hanya pertumbuhan absolutnya yang luar biasa, tetapi kecepatan skalanya yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujar Fulghum.
Menurutnya, solar mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 30% pada 2025—tingkat tertinggi dalam delapan tahun terakhir. "Ini sangat tidak biasa untuk teknologi yang sudah mencapai skala besar. Biasanya, ketika suatu teknologi matang dan mendominasi pasar, laju pertumbuhannya melambat. Tapi solar justru berlawanan," tambahnya.
Alasan di Balik Dominasi Solar
Fulghum menekankan bahwa keberhasilan solar didorong oleh inovasi teknologi dan penurunan biaya yang terus berlanjut. "Kurva pembelajaran solar belum berhenti. Dalam satu dekade terakhir, biaya solar turun hingga 90%, membuka berbagai kemungkinan penggunaan yang sebelumnya tidak terbayangkan," jelasnya.
Ia menyebutkan beberapa contoh penerapan solar yang semakin beragam:
- Instalasi skala besar di Amerika Serikat — proyek utilitas yang terhubung ke jaringan nasional.
- Sistem hibrida di Australia dan Jerman — kombinasi antara pembangkit listrik tenaga surya skala besar dan sistem terdistribusi.
- Penerapan mandiri di Pakistan — instalasi solar yang tumbuh secara organik di tingkat komunitas tanpa koordinasi terpusat.
"Versatilitas solar ini tidak dimiliki oleh sumber energi lain, baik saat ini maupun dalam sejarah," tegas Fulghum.
Dampak Konflik Geopolitik terhadap Pasar Energi
Dalam diskusi tersebut, Fulghum juga membahas potensi dampak konflik geopolitik, seperti perang di Iran, terhadap pasar energi global tahun ini. "Ketegangan di kawasan Timur Tengah dapat memengaruhi pasokan gas dan harga energi, yang pada gilirannya bisa mempercepat atau memperlambat transisi energi di beberapa negara," ungkapnya.
Transisi Energi di Negara Berkembang
Salah satu sorotan dalam laporan Ember adalah perubahan lanskap energi di India. Negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat ini kini mulai meninggalkan batu bara dan beralih ke solar sebagai sumber utama pembangkit listrik baru. "India telah membuktikan bahwa transisi energi tidak hanya mungkin, tetapi juga ekonomis," kata Fulghum.
Masa Depan Sistem Kelistrikan Global
Laporan Ember menunjukkan bahwa tren positif ini kemungkinan akan terus berlanjut. Dengan biaya solar yang semakin terjangkau dan inovasi baterai yang terus berkembang, para ahli optimis bahwa energi bersih akan semakin mendominasi pasar kelistrikan global dalam beberapa tahun ke depan.
"Kunci utama dari transisi energi ini adalah aksesibilitas dan skalabilitas. Solar telah membuktikan bahwa ia dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi, dari proyek skala besar hingga instalasi rumahan. Ini adalah masa depan energi yang tidak bisa diabaikan," pungkas Fulghum.
Temukan Lebih Lanjut
Untuk mendengarkan diskusi lengkap antara Nicholas Fulghum dan Robinson Meyer di podcast Shift Key, kunjungi platform podcast seperti Apple Podcasts, Spotify, Amazon Music, atau tautan RSS yang tersedia di situs resmi Heatmap News.