Saya sudah terbiasa menerima kritik dari orang-orang yang tidak setuju dengan pandangan saya seputar adiksi. Namun, saya tidak menyangka akan menerima kritik serupa untuk topik kecerdasan buatan (AI).

Saat ini, saya menjadi pembawa acara podcast yang membahas adiksi. Di sana, perbedaan pendapat adalah bagian dari pekerjaan. Ketika saya mewawancarai seseorang yang sedang dalam proses pemulihan, para pendengar kerap memberi komentar bahwa saya terlalu mendukung program 12 langkah—atau justru kurang mendukungnya. Saat membahas obat-obatan, sebagian berpendapat bahwa obat-obatan tersebut menyelamatkan nyawa, sementara yang lain bersikeras bahwa pemulihan harus bebas dari obat.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa adiksi tidak hanya terbatas pada zat tertentu. Ketergantungan juga dapat muncul dalam bentuk perilaku, termasuk ketergantungan pada teknologi. AI, misalnya, kini semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Dari asisten virtual hingga algoritma media sosial, teknologi ini dirancang untuk membuat kita terus kembali menggunakannya.

Dalam dunia medis, adiksi dianggap sebagai kondisi kronis yang memengaruhi otak. Perubahan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga perilaku. Ketika seseorang mengalami adiksi, otaknya mengalami perubahan yang membuatnya sulit untuk berhenti, meskipun dampaknya merugikan. Hal yang sama terjadi pada ketergantungan terhadap AI. Semakin sering kita menggunakannya, semakin sulit untuk melepaskan diri darinya.

Para ahli adiksi telah lama memahami bahwa pemulihan bukan sekadar menghentikan perilaku buruk, tetapi juga membangun pola pikir dan kebiasaan baru. Pendekatan ini bisa menjadi inspirasi dalam menghadapi ketergantungan terhadap AI. Daripada berfokus pada larangan, kita perlu mengembangkan kesadaran diri dan kontrol yang lebih baik terhadap penggunaan teknologi.

Salah satu pelajaran penting dari pengobatan adiksi adalah pentingnya dukungan sosial. Pemulihan tidak bisa dilakukan sendirian. Begitu pula dengan ketergantungan terhadap AI. Mengurangi dampak negatifnya membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk pengembang teknologi, pengguna, dan pembuat kebijakan.

Di masa depan, AI akan terus berkembang dan semakin sulit untuk dihindari. Namun, dengan memahami prinsip-prinsip adiksi, kita dapat mengambil langkah-langkah untuk mencegah ketergantungan yang berlebihan. Mulailah dengan mengenali pola penggunaan Anda sendiri, tetapkan batasan yang sehat, dan cari dukungan ketika merasa sulit untuk mengontrol diri.

Sumber: STAT News