Baseball modern sering kali dianggap kehilangan unsur misteri karena penggunaan replay review dan Automatic Ball-Strike (ABS). Teknologi ini memang membuat permainan terasa lebih terukur, tetapi tidak sepenuhnya menghilangkan peran subjektivitas manusia. Terbukti, aturan-aturan kuno yang masih berlaku kadang-kadang mampu menciptakan momen tak terduga yang mengubah sejarah pertandingan.

Bukti nyata terjadi pada pertandingan malam Senin (22/4) di San Diego, antara Chicago Cubs melawan San Diego Padres. Pada inning kesembilan, pemain Cubs Matt Shaw memukul bola pelan yang menggelinding di sepanjang garis base ketiga. Bola tersebut tampak semakin lambat dan hampir berhenti di luar garis foul.

Wasit lini, Ty France, dengan sigap mengambil bola itu. Ia mengangkat tangan, menandakan bola foul. Namun, rekaman menunjukkan bahwa bola tersebut hampir berhenti sepenuhnya di luar garis sebelum akhirnya disentuh. Keputusan ini menuai kontroversi karena banyak yang menganggap bola tersebut seharusnya dinyatakan fair ball.

"Ini adalah contoh sempurna bahwa meski teknologi canggih hadir, keputusan manusia tetap menjadi penentu dalam permainan baseball," ujar seorang analis olahraga.

Insiden ini mengingatkan kita bahwa meski instant replay dan sistem otomatis telah mempercepat proses penilaian, interpretasi subjektif tetap memiliki tempat dalam olahraga ini. Bola yang hampir berhenti di garis foul adalah salah satu momen yang menunjukkan bahwa baseball masih menyimpan unsur ketidakpastian yang membuatnya menarik.

Kontroversi semacam ini bukanlah hal baru dalam sejarah baseball. Sejak era sebelum abad ke-20, keputusan wasit sering kali menjadi perdebatan hangat. Meskipun aturan telah diperbarui, beberapa ketentuan kuno masih menyisakan ruang bagi interpretasi, terutama dalam situasi yang ambigu.

Bagi para penggemar baseball, momen seperti ini adalah pengingat bahwa olahraga ini tidak hanya tentang statistik dan teknologi, tetapi juga tentang insting, pengalaman, dan kadang-kadang, keberuntungan.

Sumber: Defector