George Bell adalah salah satu pemain baseball Dominika pertama yang berhasil menembus Major League Baseball (MLB) pada awal 1980-an. Perjalanannya tidak mudah. Saat itu, para pencari bakat dari liga utama AS mulai berdatangan ke Republik Dominika, menyadari potensi besar pemain-pemain muda di sana. Kondisi ekonomi yang buruk membuat banyak pemain muda tersebut mudah dieksploitasi. Tingkat pengangguran yang mencapai 40% membuat tim-tim MLB dapat menawarkan kontrak dengan gaji jauh lebih rendah dibandingkan pemain AS.

Bell sendiri adalah salah satu korban sistem yang kejam. Ia harus menghadapi prasangka buruk dari rekan-rekan setimnya di liga minor. Bahasa Inggris yang belum fasih dan gaya bermain yang dianggap 'tidak sesuai' membuatnya kerap menjadi sasaran kebencian. Pada tahun 1982, saat bermain untuk Syracuse di liga minor AAA, Bell menghadapi Lynn McGlothen, seorang pitcher veteran MLB yang tengah berjuang untuk kembali ke liga utama.

McGlothen dikenal sebagai pitcher yang suka melempar bola keras ke arah pemukul. Pada pertandingan sebelumnya, ia pernah melempar bola sengaja ke arah pemukul New York Mets, memicu kemarahan Dave Kingman yang langsung menyerbu ke arah mound. Sikap McGlothen terhadap Bell tidak berbeda. Ia melihat Bell sebagai pemain yang 'sombong' dan memutuskan untuk melayangkan lemparan keras ke wajah Bell, mematahkan tulang pipi dan rahangnya.

Saat rekan-rekan setim Bell menyerbu ke arah McGlothen untuk membalas, Bell tergeletak di tanah. Ia yakin kariernya di baseball, satu-satunya kesempatan untuk meraih kehidupan yang lebih baik, telah berakhir. "Dia sudah mati," pikir Bell saat itu, bukan karena ia atau rekan-rekannya akan membunuh McGlothen, melainkan karena Bell yakin suatu hari nanti McGlothen akan menerima akibat dari perbuatannya.

Dua tahun kemudian, McGlothen meninggal dunia dalam sebuah kebakaran tragis yang merenggut nyawa temannya. Bell, yang telah pulih dan berhasil naik ke liga utama, menyampaikan rasa duka cita atas tragedi tersebut. Ia menyatakan simpati kepada keluarga korban, namun juga memberikan komentar yang kontroversial: "Orang-orang seperti itu memutuskan nasib mereka sendiri. Mereka memiliki hati yang buruk. Tidak mungkin mereka bisa hidup lama."

Kata-kata Bell tersebut mungkin terdengar kejam dan tidak berperasaan. Namun, perjalanan hidupnya yang penuh rintangan membuatnya memiliki pandangan yang begitu tegas. Ia telah mengalami sendiri bagaimana kerasnya dunia baseball bagi pemain asing, terutama dari negara-negara berkembang.

Sumber: SB Nation