Film The Devil Wears Prada 2 kembali mencuri perhatian di box office akhir pekan lalu. Dengan meraih pendapatan $77 juta dalam tiga hari pertama, film ini tidak hanya melampaui proyeksi studio Disney, tetapi juga membuktikan bahwa film bergenre dewasa dan berfokus pada karakter wanita tetap memiliki daya tarik kuat di pasar.

Studio Disney memperkirakan pendapatan film ini mencapai $233,6 juta secara global di akhir pekan pembukaan. Angka ini menempatkannya sebagai pembukaan terbesar kedua tahun ini, hanya di bawah The Super Mario Galaxy Movie yang meraup $372,5 juta. Meskipun secara domestik film seperti Michael dan Project Hail Mary mencatatkan pembukaan lebih tinggi, kesuksesan The Devil Wears Prada 2 tetap menjadi sorotan.

Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu

Film ini tidak hanya menjadi bukti cinta penonton terhadap karakter Miranda Priestly (Meryl Streep) dan Andy Sachs (Anne Hathaway), tetapi juga menunjukkan bahwa warisan warisan film lama masih memiliki nilai komersial yang tinggi. Meskipun dirilis 20 tahun setelah film pertama, antusiasme penonton terhadap sekuel ini tetap tinggi, bahkan tanpa mengandalkan efek inflasi.

Kesuksesan ini juga menjadi kabar baik bagi Disney, yang tengah berupaya menghidupkan kembali warisan film dari katalog 20th Century Fox. Setelah sukses dengan Alien: Romulus, Predator: Badlands, dan Kingdom of the Planet of the Apes, The Devil Wears Prada 2 menjadi bukti bahwa film non-superhero juga mampu mencatatkan prestasi impresif di box office.

Tantangan Industri terhadap Film Berfokus Wanita

Lebih dari sekadar pencapaian komersial, kesuksesan film ini juga menyoroti pentingnya keberanian industri dalam mengambil risiko untuk memproduksi film yang berfokus pada karakter wanita dewasa. Dengan tidak ada pemeran utama di bawah usia 40 tahun, film ini menunjukkan bahwa pasar masih menghargai cerita yang dewasa dan relevan, bukan hanya mengandalkan tren film aksi yang didominasi oleh pria muda.

Di tengah dominasi film superhero dan aksi, The Devil Wears Prada 2 hadir sebagai pengingat bahwa nostalgia dan kualitas cerita tetap menjadi faktor kunci dalam menarik minat penonton. Film ini tidak hanya berhasil mencuri perhatian, tetapi juga membuka peluang bagi lebih banyak film bergenre serupa di masa depan.