Seorang Penulis yang Menyukai Kisah-Kisah Blokbuster
Patrick Radden Keefe dikenal sebagai penulis investigasi yang menyajikan kisah-kisah blak-blakan. Ia pernah menyatakan di podcast Critics at Large milik The New Yorker bahwa dirinya bukanlah penggemar genre true crime. Sebaliknya, Keefe lebih tertarik menulis tentang penipuan, gengster, penipu ulung, hingga pengacara berkuasa. Ia kerap disebut sebagai 'anak nakal' di dunia jurnalisme, mirip dengan almarhum Anthony Bourdain—yang sempat ia tulis profilnya pada 2017, setahun sebelum Bourdain meninggal dunia.
Dari 'Rogues' hingga 'Say Nothing': Jejak Karya Keefe
Dalam wawancara terbarunya di The New Yorker, Keefe membahas minatnya terhadap moral gymnastics—bagaimana manusia membenarkan tindakannya sendiri. Karya sebelumnya, Rogues, adalah kumpulan esai kritis yang dia tulis. Sementara itu, bukunya yang berjudul Say Nothing, yang mengupas konflik The Troubles di Irlandia Utara, diadaptasi menjadi serial daring oleh Hulu dan menuai pujian kritis.
Kini, Keefe kembali dengan karya terbaru berjudul London Falling, sebuah karya nonfiksi investigatif yang telah diambilalih oleh studio A24. Meski tetap menyertakan unsur-unsur penipu, gengster, dan pengacara berkuasa, buku ini lebih fokus pada satu kasus kriminal yang menyayat hati.
Kisah Kelam di Balik Kematian Zac Brettler
London Falling mengisahkan kematian misterius Zac Brettler, seorang remaja dari keluarga kelas menengah yang ternyata menjalani kehidupan ganda. Tanpa sepengetahuan keluarganya, Zac menyamar sebagai anak seorang oligark Rusia dan terlibat dalam lingkaran yang sangat berbahaya.
Kisah ini dimulai ketika jasad Zac ditemukan tergeletak di lumpur tepi Sungai Thames. Orang tua Zac, Rachelle dan Matthew, kemudian melakukan investigasi mendalam untuk mengungkap kebenaran di balik kematian dan kehidupan rahasia anak mereka. Cerita ini tak hanya tentang kejahatan, tetapi juga tentang kesedihan keluarga dan sejarah kolonial London yang masih membayang.
Ambisi yang Menghancurkan: Perjalanan Zac Menuju Kematian
Kecintaan Zac terhadap kemewahan perlahan-lahan mengubah dirinya. Ia berusaha keras untuk masuk ke dalam lingkaran elite sekolah swasta dan klub-klub mewah di London, yang tak jarang berhubungan dengan mafia Rusia dan penipuan keuangan. Di dunia gelap ini, siapa pun bisa menjadi korban.
Zac percaya bahwa kecerdasan dan kelihaiannya dalam bersosialisasi dapat membantunya menembus dunia investasi asing dan transaksi gelap. Namun, orang tuanya tak pernah menyadari seberapa dalam hasrat materialistik dan keinginan untuk hidup cepat yang dimiliki anak mereka. Seperti yang diungkapkan Keefe, "Zac tumbuh dewasa di tengah kota yang mabuk oleh uang asing, di era media sosial."
Keefe bahkan mengungkapkan bahwa algoritma pencariannya mulai menampilkan iklan properti saat ia melakukan riset untuk buku ini. "Di abad ke-20, kekuasaan mengumumkan dirinya dengan gemerlap," tulis Keefe dalam Empire of Pain. "Namun, kini kekayaan baru lebih memilih model kemewahan yang tak terlihat." Para taipan seperti keluarga Sackler, misalnya, sangat hati-hati dalam mengelola citra kekayaan mereka, sehingga lambat laun diterima di London dan dunia seni internasional. Kota ini tetap terbuka untuk menerima uang siapa pun yang memilikinya—itulah yang membuat Zac bisa masuk ke dalam lingkaran Verinder Sharma dan Akbar Shamji dengan mengaku sebagai anak oligark Rusia.
Kisah Keluarga dan Sejarah Kolonial yang Tersembunyi
Di balik kematian Zac, tersimpan cerita tentang keluarga yang hancur dan sejarah kolonial London yang tak pernah benar-benar hilang. Keefe menyajikan narasi yang mendalam, menggabungkan investigasi kriminal dengan konteks sejarah yang kaya. Hasilnya adalah sebuah karya yang tak hanya menegangkan, tetapi juga menyentuh hati.
Bagi pembaca yang menyukai kisah-kisah investigatif dengan gaya penulisan yang mengalir seperti novel, London Falling adalah pilihan yang tepat. Keefe berhasil menyajikan fakta dengan ketelitian seorang jurnalis dan kedalaman seorang penulis fiksi, menjadikan buku ini tak hanya sebagai bacaan yang menghibur, tetapi juga sebagai cermin bagi masyarakat modern yang semakin terjebak dalam budaya materialisme dan pencarian status sosial.