AI di Balik Kode: Janji Efisiensi atau Ancaman bagi Pengembang?

Para pemimpin perusahaan teknologi meyakini bahwa kecerdasan buatan (AI) akan sepenuhnya mengubah lanskap ekonomi global. Mereka menunjuk pada perubahan yang terjadi di dalam perusahaan masing-masing sebagai bukti bahwa transformasi ini sedang berlangsung dengan cepat. Di Meta, Google, Microsoft, dan perusahaan teknologi besar lainnya, para eksekutif mengklaim bahwa AI kini menghasilkan sebagian besar kode perangkat lunak—proses yang dinilai lebih murah, cepat, dan efisien.

Imbasnya, jika AI sudah dianggap cukup andal untuk digunakan secara internal guna meningkatkan produktivitas dan mengurangi jumlah karyawan, tak lama lagi industri lain pun diperkirakan akan mengalami perubahan serupa. Namun, cerita yang berbeda justru muncul dari para pengembang software yang diharuskan menggunakan AI, baik mereka menyukainya atau tidak.

Ketergantungan AI Menimbulkan Masalah Baru

Di forum seperti Reddit dan Hacker News, semakin banyak pengembang yang mulai kecewa terhadap janji AI dalam menghasilkan kode. Mereka tidak hanya mengeluhkan output AI yang sering kali cacat, tetapi juga pengalaman kerja yang lebih rumit, memakan waktu, dan membuat frustrasi. Pasalnya, mereka harus memeriksa dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dihasilkan AI sebelum kode tersebut dapat digunakan.

Yang lebih mengkhawatirkan, para pengembang yang menggunakan AI di tempat kerja melaporkan bahwa mereka merasa mengalami de-skilling—hilangnya kemampuan untuk bekerja secara mandiri seperti sebelumnya. "Kami disuruh menggunakan AI untuk melakukan perubahan besar-besaran di seluruh basis kode. Tidak ada cara untuk memastikan apakah kode sebanyak itu berkualitas baik atau aman, terutama ketika ratusan programmer lain di perusahaan juga melakukan hal yang sama," ujar seorang desainer UX di perusahaan teknologi menengah yang memilih untuk tetap anonim.

Para pengembang yang diwawancarai untuk laporan ini meminta anonimitas karena mereka terikat perjanjian kerahasiaan atau takut akan dampak negatif dari atasan mereka. "Kami sedang membangun utang teknologi yang rumit dan tak terurai. Suatu saat nanti, ketika biaya model AI menjadi terlalu mahal, kami akan kesulitan untuk memperbaikinya," kata salah satu sumber.

Klaim Perusahaan vs. Realita di Lapangan

Eksekutif perusahaan teknologi kerap membanggakan seberapa besar kontribusi AI dalam menghasilkan kode di perusahaan mereka. Pada April lalu, Google mengklaim bahwa tiga perempat dari kode baru yang dibuat di perusahaan tersebut dihasilkan oleh AI. Tahun lalu, CEO Microsoft, Satya Nadella, menyatakan bahwa hingga 30 persen kode di perusahaan mereka dibuat oleh AI. Sementara itu, CTO Microsoft, Kevin Scott, memprediksi bahwa pada tahun 2030, 95 persen kode di perusahaan tersebut akan dihasilkan oleh AI.

Mark Zuckerberg, CEO Meta, juga pernah mengatakan bahwa dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, AI akan menulis sebagian besar kode yang digunakan untuk meningkatkan AI itu sendiri. Sementara itu, Anthropic mengklaim bahwa 90 persen kode yang dihasilkan oleh tim mereka adalah buatan AI.

Perusahaan-perusahaan teknologi ini juga tidak ragu untuk membanggakan pengeluaran besar mereka untuk alat AI, yang disebut sebagai "tokenmaxxing", sebagai pengganti investasi pada karyawan manusia.

Apakah Anda Seorang Pengembang yang Tertekan untuk Menggunakan AI?

Jika Anda seorang pengembang di Google, Microsoft, atau perusahaan teknologi lainnya yang merasa ditekan untuk menggunakan AI, kami ingin mendengar cerita Anda. Anda dapat menghubungi kami secara aman melalui Signal di nomor (609) 678-3204 menggunakan perangkat non-kerja. Atau, kirimkan email ke [email protected].

Sumber: 404 Media