Sebuah trio kabinet permainan arkade dengan seni pixel bergambar wajah Donald Trump dan sejumlah pejabat pemerintah lainnya tiba-tiba muncul di DC War Memorial minggu ini. Dari kejauhan, Operation Epic Furious: Strait to Hell—yang juga bisa dimainkan daring—terlihat seperti lelucon monumental karya kolektif seni berbasis DC, The Secret Handshake.
Namun, setelah mencoba memainkannya secara langsung, terungkap bahwa permainan ini bukan sekadar hiburan. Operation Epic Furious ternyata menyajikan kritik pedas terhadap politik kontemporer, diselipkan dengan penghormatan terhadap permainan peran klasik (RPG).
Dalam permainan ini, pemain berperan sebagai karakter yang menjelajahi dunia distopia yang sarat dengan referensi politik kontroversial. Grafis pixel art yang digunakan memberikan nuansa nostalgia, sementara gameplay-nya menggabungkan elemen strategi dan aksi yang menuntut konsentrasi tinggi.
Menariknya, permainan ini tidak hanya menargetkan Presiden AS saat ini. Beberapa tokoh pemerintah lainnya juga dihadirkan sebagai karakter yang bisa dimainkan, masing-masing dengan gaya dan kemampuan unik. Hal ini semakin memperkaya narasi permainan, sekaligus mempertajam kritik sosial yang disampaikan.
Bagi para penggemar RPG klasik seperti Final Fantasy atau Chrono Trigger, permainan ini menawarkan pengalaman yang familier namun dengan sentuhan modern. Sementara itu, bagi pemain umum, Operation Epic Furious bisa menjadi sarana untuk mengeksplorasi isu-isu politik melalui medium yang lebih interaktif.
Permainan ini dapat dimainkan secara daring maupun melalui kabinet arkade fisik yang tersebar di berbagai lokasi. Para pemain juga dapat memberikan masukan langsung kepada pengembang melalui platform daring, menjadikan karya ini sebagai proyek seni yang dinamis dan responsif terhadap perkembangan sosial.