Pemerintah Venezuela melancarkan protes keras setelah Amerika Serikat (AS) menyita beberapa kapal yang diduga mengangkut minyak asal Venezuela. Aksi tersebut dianggap sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara dan memicu kemarahan publik.
Di ibu kota Caracas, ribuan warga turun ke jalan dalam sebuah kendaraan hias besar untuk menyuarakan penolakan terhadap kebijakan AS. Aksi ini juga disertai dengan berbagai spanduk yang mengecam langkah pemerintah AS sebagai tindakan pembajakan modern.
Menurut analis politik, Presiden AS Donald Trump diduga memanfaatkan isu ini untuk kepentingan politik dalam negeri menjelang pemilihan umum. Penyitaan kapal-kapal minyak Venezuela disebut-sebut sebagai bagian dari strategi untuk menekan rezim Nicolas Maduro, namun juga menimbulkan kontroversi internasional.
Sejumlah pakar hukum internasional menilai tindakan AS melanggar prinsip-prinsip hukum laut dan kedaulatan negara.
"AS tidak memiliki wewenang hukum untuk menyita kapal-kapal asing tanpa alasan yang jelas. Ini adalah bentuk pelanggaran yang serius,"ujar seorang ahli hukum dari Universitas Caracas.
Sementara itu, pemerintah AS membela tindakannya dengan alasan untuk mencegah dugaan pencucian uang dan pelanggaran sanksi ekonomi terhadap Venezuela. Namun, banyak pihak yang skeptis terhadap justifikasi tersebut, terutama mengingat hubungan politik yang kompleks antara kedua negara.
Protes yang digelar di Caracas juga menampilkan berbagai simbol perlawanan, termasuk boneka yang menyerupai Trump dengan kostum bajak laut lengkap dengan topeng dan pedang. Simbol ini mencerminkan pandangan masyarakat Venezuela bahwa kebijakan AS tidak hanya tidak adil, tetapi juga menyerupai tindakan bajak laut dalam menjarah sumber daya alam.
Ketegangan antara AS dan Venezuela terus meningkat sejak beberapa bulan terakhir, dengan berbagai sanksi ekonomi yang saling dijatuhkan. Meskipun demikian, pemerintah Venezuela tetap teguh menolak intervensi asing dan berjanji untuk mengambil langkah hukum lebih lanjut.