Mikrodrama memang dikenal dengan konten yang kerap dianggap murahan. Bahkan Austin Herring, CEO Snow Story Productions—salah satu perusahaan besar di balik format video vertikal ini—mengakui bahwa banyak karya populer di genre tersebut saat ia mulai terjun pada 2024 lalu. Ia menggambarkan bahwa konten-konten tersebut “hampir tidak layak ditonton” karena mengandalkan drama picisan dan cerita selevel sinetron murahan.

Namun, Herring justru memilih untuk berani berbeda. Ia berkomitmen meningkatkan standar produksi mikrodrama dengan cara yang lebih selektif dalam pemilihan naskah dan mendorong penulisan yang lebih kuat untuk setiap proyek barunya. Dua tahun sejak proyek pertamanya, Snow Story berhasil membuktikan bahwa kualitas bisa tetap terjaga tanpa mengorbankan popularitas.

Proyek pertama mereka, “Pregnant by Ex’s Dad”, menjadi salah satu karya yang sukses di platform ReelShort dengan capaian 64,7 juta penonton hingga saat ini. Kesuksesan ini diikuti oleh karya-karya lain seperti “The Virgin and The Billionaire”, yang telah ditonton sebanyak 194 juta kali.

Produksi 100 Mikrodrama Setahun: Bukan Sekadar Kuantitas

Pada 2025, Snow Story telah memproduksi 28 judul mikrodrama vertikal. Tahun depan, mereka menargetkan untuk memproduksi lebih dari 100 judul. Angka ini terbilang luar biasa bagi perusahaan produksi konvensional, terutama karena industri mikrodrama dikenal dengan kebiasaan memproduksi konten dalam jumlah besar tanpa memedulikan kualitas.

Namun, kesuksesan Snow Story diraih dengan kerja keras. Mereka berusaha menonjol di industri mikrodrama senilai $11 miliar dengan cara meningkatkan kualitas konten tanpa menaikkan biaya produksi secara signifikan. Bagi Herring, solusinya bukan dengan mengubah format, melainkan berinovasi di dalam struktur yang sudah terbukti berhasil.

Dari Produksi Komersial ke Mikrodrama: Perubahan Fokus yang Cepat

Sebelum terjun ke mikrodrama, Snow Story lebih banyak berfokus pada produksi komersial. Namun, dalam dua tahun terakhir, perusahaan ini dengan cepat mengalihkan perhatiannya ke mikrodrama vertikal karena permintaan pasar yang sangat tinggi. Herring mengungkapkan bahwa industri vertikal kini “menguasai perhatian” masyarakat di berbagai momen sehari-hari.

“Mereka memiliki perhatianmu di mana pun: saat antre di bank, duduk di toilet, berbaring di tempat tidur sebelum tidur atau baru bangun, menunggu bus, atau sebelum naik pesawat. Mereka memiliki perhatianmu di setiap dua atau tiga menit luang yang kamu miliki. Itu adalah hal besar, dan itu adalah keuntungan besar bagi perusahaan-perusahaan tersebut.”

Tren mikrodrama bahkan mulai menarik perhatian Hollywood. Banyak nama besar dan studio ternama yang ikut terjun ke dalam genre ini, mulai dari Issa Rae hingga Fox. Herring mengakui bahwa permintaan pasar yang begitu tinggi telah “sepenuhnya menggeser” fokus bisnisnya dari produksi komersial ke mikrodrama dalam dua tahun terakhir.

Mengubah Standar: Dari Konten Biasa Menjadi Berkualitas

Awalnya, konten mikrodrama terasa jauh dari standar produksi yang biasa ia pegang. Namun, hal itu tidak membuatnya mundur. Anggaran dan timeline produksi yang mirip dengan iklan komersial justru menjadi tantangan terbesar baginya untuk menciptakan konten yang sesuai dengan standar Snow Story.

“Saya punya prinsip: saya tidak akan mengatakan tidak pada sebagian besar proyek. Saya akan mencari cara untuk membuatnya menguntungkan, jadi saya tidak gentar menghadapinya.”

Herring pertama kali diajak untuk memproduksi konten vertikal saat terjadi SAG/WGA strike pada 2023. Saat itu, banyak aktor dan kru yang bersedia bekerja dengan bayaran lebih rendah karena minimnya pekerjaan. Kondisi ini justru dimanfaatkan Snow Story untuk bereksperimen dan membuktikan bahwa kualitas bisa tetap dipertahankan meski dengan anggaran terbatas.

Sumber: The Wrap