Sejumlah anggota Partai Republik di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (DPR AS) secara diam-diam mengakui bahwa Donald Trump dan gerakan Make America Great Again (MAGA) kini menjadi beban elektoral menjelang pemilu menengah. Mereka terjebak dalam dilema: apakah tetap mengandalkan Trump untuk memobilisasi basisnya—suara yang sangat dibutuhkan—atau menghindar karena keterkaitan dengan presiden yang tidak populer dan tengah mengalami kemunduran.

Kondisi ini semakin rumit dengan data terbaru yang menunjukkan Trump sebagai presiden paling tidak populer sepanjang sejarah AS dalam hal harga bahan bakar. Survei juga mengungkapkan bahwa isu korupsi yang melekat padanya semakin menjadi sorotan publik.

Partai Republik Terjebak dalam Dilema Elektoral

Ketidakpastian Partai Republik untuk bergantung pada Trump mencerminkan dampak buruk dari dukungan tanpa syarat mereka terhadap presiden tersebut. Hal ini berdampak pada berbagai aspek, termasuk harga bahan bakar yang melonjak akibat perang yang dipicu Trump.

Dalam wawancara podcast Daily Blast edisi 15 Mei, jurnalis Greg Sargent membahas temuan terbaru tersebut bersama Mona Charen, penulis untuk The Bulwark. Mereka menganalisis bagaimana kombinasi harga bahan bakar dan korupsi mulai merugikan Partai Republik secara tersembunyi.

Ketidakpopuleran Trump Mencapai Rekor Tertinggi

Data dari CNN yang dianalisis oleh Harry Enten menunjukkan tingkat ketidaksetujuan terhadap Trump terkait harga bahan bakar mencapai 79 persen—angka tertinggi sepanjang sejarah presiden AS abad ini. Bahkan, 85 persen independen dan 52 persen anggota Partai Republik menyatakan ketidaksetujuan mereka.

"Meskipun saya tidak selalu percaya bahwa pemilih adalah sosok yang bijaksana, dalam kasus ini, jelas bahwa masyarakat menilai Trump bertanggung jawab atas lonjakan harga bahan bakar. Perang yang tidak terprovokasi yang ia mulai telah menyebabkan kenaikan harga tersebut," ujar Mona Charen.

Charen menambahkan bahwa masyarakat tidak menyalahkan Trump atas pandemi COVID-19 karena dianggap di luar kendalinya. Namun, perang yang ia mulai tanpa alasan yang jelas telah membuatnya sulit untuk dipertahankan.