Pemantauan Banjir dari Luar Angkasa Kian Krusial akibat Perubahan Iklim

Perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir di seluruh dunia. Kondisi ini mendorong pentingnya pemantauan dan prediksi bahaya banjir secara akurat. Sebuah studi terbaru dalam Reviews of Geophysics menganalisis kinerja berbagai sensor antariksa dalam memantau banjir.

Kami mewawancarai penulis utama studi tersebut untuk menjelaskan tentang pemantauan banjir berbasis satelit, keunggulan dan tantangannya, serta proyek antariksa masa depan. Berikut ringkasannya.

Mengapa Pemantauan Air Permukaan di Bumi Penting?

Lebih dari separuh penduduk dunia tinggal dalam jarak tiga kilometer dari sumber air tawar. Banjir musiman yang terprediksi dapat memberikan nutrisi penting bagi tanah dan tanaman. Namun, banjir ekstrem justru merusak keseimbangan sistem air tawar dan menimbulkan kerugian besar.

Perubahan iklim membuat kejadian ekstrem semakin sering dan sulit diprediksi. Sementara itu, pertumbuhan penduduk di daerah rawan banjir semakin meningkatkan risiko kerugian manusia. Pemantauan terus-menerus terhadap air permukaan di Bumi sangat penting untuk mengantisipasi bahaya, mengevaluasi risiko, dan merancang intervensi yang melindungi masyarakat dan wilayah yang rentan terhadap bencana hidrologi.

Keunggulan Sensor Satelit dalam Memantau Banjir

Pemantauan banjir dari luar angkasa memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan metode lain. Sensor satelit mampu memberikan cakupan global yang luas, menangkap data penting di wilayah yang luas. Berbeda dengan sensor in-situ seperti alat ukur sungai yang terbatas cakupannya dan bahkan dapat rusak saat banjir besar terjadi.

Satu lintasan satelit saja dapat menangkap seluruh cekungan sungai. Hal ini memungkinkan para penanggap bencana untuk melihat sebaran air, wilayah yang terdampak, serta perkembangan kejadian banjir secara real-time.

Sejarah Pemantauan Air Permukaan dari Satelit

Nilai pemantauan air permukaan dari luar angkasa pertama kali disadari pada awal 1970-an, setelah peluncuran Landsat 1. Tak lama setelah diluncurkan, satelit tersebut menangkap gambar banjir Sungai Mississippi tahun 1973, menghasilkan salah satu peta banjir pertama yang dibuat dari luar angkasa.

Pada awal 2000-an, sensor MODIS milik NASA mulai menyediakan cakupan global dengan frekuensi harian. Saat ini, terdapat beberapa sistem pemantauan banjir global, termasuk Copernicus Emergency Management Service milik Uni Eropa yang memetakan banjir menggunakan radar aperture sintetis (SAR) Sentinel-1, serta sistem pemetaan banjir NOAA VIIRS.

"Satu lintasan satelit saja dapat menangkap seluruh cekungan sungai, memungkinkan para penanggap bencana untuk melihat sebaran air dan wilayah yang terdampak secara real-time."

Tiga Jenis Sensor Satelit dalam Pemantauan Banjir

Studi ini menelaah tiga jenis sensor satelit:

  • Sensor multispektral (optik dan termal): menangkap cahaya yang dipantulkan atau panas yang dipancarkan oleh permukaan air.
  • Sensor gelombang mikro: termasuk radar aperture sintetis (SAR), radiometer gelombang mikro pasif, dan GNSS Reflectometry (GNSS-R). Sensor ini dapat mengamati melalui awan dan pada malam hari, namun memiliki trade-off antara resolusi dan cakupan.
  • Sensor altimetri: mengukur elevasi permukaan air dengan presisi tinggi, tetapi hanya di sepanjang jalur sempit.

Masing-masing jenis sensor memiliki keunggulan dan kelemahan yang saling melengkapi. Kombinasi penggunaan sensor-sensor ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pemantauan banjir di masa depan.