Pada tanggal 9 Mei 1974, sejarah Mahkamah Agung Amerika Serikat mencatat momen penting ketika DPR AS memperkenalkan resolusi impeachment terhadap Presiden Richard Nixon. Langkah ini menjadi awal dari serangkaian peristiwa yang akhirnya membawa Nixon mundur dari jabatannya sebagai presiden.

Proses impeachment dimulai setelah munculnya bukti-bukti yang menunjukkan keterlibatan Nixon dalam skandal Watergate. Skandal ini melibatkan penyadapan ilegal terhadap kantor Partai Demokrat oleh tim kampanye Nixon pada tahun 1972. Meskipun Nixon menyangkal keterlibatannya, bukti-bukti yang ditemukan semakin menguatkan dugaan bahwa ia telah menutupi keterlibatan pemerintahannya dalam kasus tersebut.

Perkembangan penting lainnya terjadi pada 24 Juli 1974, ketika Mahkamah Agung AS memutuskan kasus U.S. v. Nixon. Dalam keputusan bersejarahnya, Mahkamah Agung memerintahkan Nixon untuk menyerahkan rekaman audio yang menunjukkan percakapannya di Oval Office. Keputusan ini menegaskan bahwa tidak ada presiden yang kebal hukum, bahkan jika ia menjabat sebagai kepala negara.

Keputusan Mahkamah Agung tersebut menjadi pukulan telak bagi Nixon. Ia menyadari bahwa dukungan politiknya semakin melemah dan kemungkinan impeachment semakin nyata. Pada tanggal 9 Agustus 1974, Nixon akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya, menjadikannya satu-satunya presiden AS yang mengundurkan diri dari jabatan tersebut.

Peristiwa ini tidak hanya menjadi momen penting dalam sejarah politik Amerika, tetapi juga menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya akuntabilitas dan supremasi hukum dalam sistem pemerintahan demokratis.

Sumber: Reason