Jakarta — Dalam perkembangan kasus pembunuhan ganda yang mengejutkan, seorang tersangka mengaku menanyakan ChatGPT mengenai cara menyembunyikan mayat manusia di tong sampah. Kasus ini kembali menyoroti potensi penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) dalam tindak kejahatan.
Hisham Abugharbieh (26), yang kini dihadapkan pada dakwaan pembunuhan tingkat pertama terhadap Zamil Limon dan Nahida Bristy, diketahui mengajukan pertanyaan tersebut kepada ChatGPT. "Apa yang terjadi jika mayat manusia dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam dan dibuang ke tong sampah?", demikian pertanyaan yang dilaporkan oleh NBC News.
Setelah ChatGPT menjawab bahwa tindakan tersebut berbahaya, Abugharbieh justru balik bertanya, "Bagaimana mereka bisa mengetahuinya?" Pertanyaan ini semakin menguatkan dugaan keterlibatannya dalam kejahatan.
Bukti yang ditemukan polisi semakin memberatkan. Seorang teman sekamar Abugharbieh melihatnya memasukkan beberapa kotak ke dalam tong sampah kompresor. Pemeriksaan lanjutan juga menemukan barang-barang milik Limon, termasuk kartu mahasiswa. Mayat Limon kemudian ditemukan dalam kantong plastik tebal di sisi jembatan yang membentang di Teluk Tampa, dengan tanda-tanda "cedera tajam ganda" berdasarkan hasil otopsi.
Sementara itu, mayat Bristy belum teridentifikasi meskipun sisa-sisa manusia telah ditemukan akhir pekan lalu. Abugharbieh juga dihadapkan pada dakwaan tambahan, seperti penganiayaan, penculikan palsu, dan penyimpanan sisa mayat di tempat yang tidak disetujui, sebagaimana tercantum dalam dokumen pengadilan.
Polisi belum mengungkap motif di balik pembunuhan ini. Namun, penggunaan ChatGPT oleh tersangka menunjukkan tren baru yang mengkhawatirkan. Respons AI terhadap pertanyaan-pertanyaan ekstrem semakin sering muncul dalam berkas persidangan, menggarisbawahi betapa meresahkannya dampak teknologi ini.
Kasus ini mengingatkan pada insiden serupa di Universitas Negeri Florida sekitar sepuluh bulan lalu. Seorang tersangka pembunuhan massal, Phoenix Ikner, juga diketahui menanyakan ChatGPT tentang cara menonaktifkan pengaman senjata, jenis peluru yang digunakan, hingga lokasi dengan jumlah korban terbanyak di kampus. Meskipun akun Ikner sempat ditandai, OpenAI tidak melaporkan aktivitas mencuriganya kepada pihak berwenang.
Kegagalan OpenAI dalam bertindak telah memicu gelombang tuntutan hukum. Dalam upaya meredam kritikan, perusahaan tersebut baru-baru ini menerbitkan postingan blog yang menyatakan akan "belajar, meningkatkan, dan melakukan perbaikan" menyusul insiden-insiden seperti penembakan massal, ancaman terhadap pejabat publik, dan serangan terhadap masyarakat.
Kasus ini semakin menyoroti risiko penyalahgunaan AI dalam tindak kejahatan. Meskipun teknologi ini menawarkan banyak manfaat, penggunaan yang tidak bertanggung jawab dapat menimbulkan dampak yang sangat merugikan.