May Day Bukan Sekadar Hari Buruh, Tetapi Hari untuk Mengenang Korban Komunisme
Sejak 2007, saya mengusulkan agar tanggal 1 Mei dijadikan sebagai Hari Korban Komunisme Internasional. Bukan tanpa alasan. May Day yang semula merupakan hari perjuangan buruh dan aktivis serikat pekerja, akhirnya diambil alih oleh Uni Soviet dan rezim komunis lainnya sebagai alat propaganda untuk memperkuat kekuasaan mereka.
Alih-alih merayakan semangat perjuangan buruh, mari kita gunakan hari ini untuk mengenang jutaan korban yang tewas akibat kekejaman rezim komunis. Menurut Buku Hitam Komunisme, diperkirakan antara 80 hingga 100 juta orang meninggal dunia akibat rezim ini. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan korban akibat tirani lainnya di abad ke-20.
Kita memiliki Hari Peringatan Holocaust untuk mengenang korban Holocaust. Begitu pula, sudah sepatutnya kita memiliki peringatan serupa untuk korban komunisme. Dan May Day adalah hari yang paling tepat untuk itu.
Mengapa Penting untuk Mengenang Korban Komunisme?
Pengenangan ini bukan sekadar untuk mengenang sejarah kelam, tetapi juga untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan. Sama seperti Hari Peringatan Holocaust yang meningkatkan kesadaran akan bahaya rasisme dan antisemitisme, Hari Korban Komunisme dapat meningkatkan kesadaran akan bahaya totalitarianisme sayap kiri, dominasi pemerintah atas ekonomi, dan masyarakat sipil.
Komunisme memang identik dengan Rusia, tempat lahirnya rezim komunis pertama. Namun, dampaknya yang mengerikan juga dirasakan di negara-negara lain. Salah satu tragedi terbesar terjadi di China di bawah pemerintahan Mao Zedong. Lompatan Besar ke Depan yang dilancarkannya kemungkinan merupakan episode pembunuhan massal terbesar dalam sejarah manusia.
Komunisme: Sistem yang Memang Dirancang untuk Menindas
Pada 7 November 2017, tepat 100 tahun setelah Revolusi Bolshevik yang melahirkan rezim komunis pertama, saya menulis sebuah artikel tentang pelajaran yang dapat dipetik dari satu abad pengalaman dengan komunisme. Artikel tersebut menjelaskan bahwa sebagian besar kekejaman yang dilakukan oleh rezim komunis bukanlah akibat faktor kebetulan, melainkan merupakan cacat bawaan dari sistem itu sendiri.
Faktor-faktor seperti pemimpin yang lemah, budaya lokal, atau ketiadaan demokrasi memang dapat memperburuk situasi. Namun, pada dasarnya, sistem ekonomi sosialis yang mengontrol seluruh atau hampir seluruh perekonomian akan cenderung menuju kediktatoran atau oligarki. Meskipun pengaruh ideologi komunis telah menurun sejak puncaknya di pertengahan abad ke-20, komunisme belum benar-benar mati. Saat ini, masih ada rezim komunis yang berkuasa tanpa melakukan reformasi signifikan.
Peringatan untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Hari Korban Komunisme bukan hanya untuk mengenang mereka yang telah menjadi korban, tetapi juga untuk mengingatkan kita semua akan bahaya ideologi yang mengorbankan kebebasan dan martabat manusia. Dengan mengenang korban-korban ini, kita berharap dapat mencegah sejarah kelam terulang kembali.
Mari jadikan 1 Mei sebagai momentum untuk belajar dari masa lalu dan membangun masa depan yang lebih adil dan bebas dari tirani.