Trump: Mahasiswa Tiongkok dan Lahan Pertanian untuk China
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan rencana untuk mendatangkan 500.000 mahasiswa dari Tiongkok ke universitas-universitas Amerika Serikat. Ia juga menyatakan keterbukaan terhadap kepemilikan lahan pertanian di AS oleh perusahaan-perusahaan China. Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News pada Jumat (15/5/2026).
"Jika mereka mahasiswa yang baik dan ingin tinggal di Amerika, kami tidak akan memberi mereka green card atau hal-hal semacam itu," ujar Trump. "Saya pikir ini hal yang baik bahwa orang-orang datang dari negara lain, belajar budaya kita, dan banyak yang ingin tinggal di sini. Saya kira ini hal yang positif. Tidak semua setuju dengan saya, dan ini terdengar tidak terlalu konservatif. Tapi saya konservatif—saya orang yang berakal sehat, lebih daripada sekadar konservatif."
Trump menambahkan bahwa kehadiran mahasiswa asing, termasuk dari Tiongkok, dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi, terutama di sektor pendidikan dan pertanian. "Saya pikir ini hal yang baik," katanya.
Reaksi keras dari pendukung MAGA
Rencana Trump ini memicu kemarahan di kalangan pendukung gerakan MAGA (Make America Great Again), terutama kelompok yang memiliki sentimen anti-Tiongkok. Beberapa tokoh dan politisi pro-MAGA menyuarakan penolakan keras terhadap kebijakan tersebut.
- James Fishback, calon gubernur Florida dari kubu MAGA, mengancam akan menaikkan biaya kuliah hingga $1.000.000 per tahun bagi mahasiswa Tiongkok jika mereka diterima di perguruan tinggi Florida. "Saya tidak akan membiarkan kursi terbatas di perguruan tinggi negeri dicuri oleh orang asing," katanya.
- Robby Starbuck, influencer MAGA, menuding mahasiswa Tiongkok wajib bertindak sebagai mata-mata bagi pemerintah China berdasarkan hukum di negara tersebut. "Jika kepergian mereka membuat beberapa sekolah bangkrut, biarlah mereka bangkrut," ujarnya.
- Marjorie Taylor Greene, mantan anggota Kongres dari kubu MAGA, menyebut kebijakan Trump sebagai penghinaan terhadap mahasiswa Amerika. "Bayangkan seorang mahasiswa Amerika menerima surat penolakan sementara 500.000 mahasiswa Tiongkok diterima," tulisnya di media sosial.
Kebijakan Trump vs. Prinsip 'America First'
Kebijakan Trump yang membuka pintu bagi mahasiswa Tiongkok dan investasi China di lahan pertanian AS dianggap bertentangan dengan prinsip dasar gerakan MAGA, yaitu mendahulukan kepentingan Amerika Serikat. Para pendukung setia Trump pun merasa bingung dan kecewa dengan kebijakan yang dinilai inkonsisten ini.
Dalam wawancara lanjutan, Trump membela kebijakannya dengan mengatakan bahwa kehadiran mahasiswa asing dapat memperkaya budaya dan ekonomi Amerika. Namun, ia juga mengakui bahwa tidak semua pihak setuju dengan pandangannya tersebut.
Kesimpulan
Rencana Presiden Trump untuk mendatangkan mahasiswa Tiongkok dan membuka investasi China di lahan pertanian AS telah memicu perdebatan sengit di kalangan pendukungnya. Sementara Trump berargumen bahwa kebijakan ini menguntungkan Amerika, banyak pihak yang melihatnya sebagai langkah yang bertentangan dengan semangat 'America First'.