Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu keputusan kontroversial dari Presiden Donald Trump. Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa Pentagon secara mendadak membatalkan pengiriman brigade lapis baja ke Polandia pekan ini. Padahal, sebagian peralatan dan pasukan brigade tersebut sudah dalam perjalanan saat perintah pembatalan dikeluarkan.
Kebijakan Trump yang tiba-tiba menarik pasukan dari Eropa ini dianggap sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap negara-negara Eropa yang enggan mendukung agresinya terhadap Iran. Langkah ini menambah daftar kebijakan luar negeri yang menuai kritik dari berbagai pihak.
Kunjungan Trump ke China: Pujian Tanpa Batas
Sementara itu, kunjungan kenegaraan Trump ke China menunjukkan hubungan yang penuh pujian. Presiden Xi Jinping menyambutnya dengan upacara kehormatan, barisan anak-anak yang bersorak, dan tembakan salut 21 kali. Meskipun tidak lagi meminta tamu untuk melakukan kowtow seperti pada masa lalu, suasana penghormatan tetap terasa.
Dalam pertemuan di Balai Agung Rakyat, Xi menekankan pentingnya kerja sama antara kedua negara. "Kita harus menjadi mitra, bukan lawan," ujar Xi dengan nada profesional. Namun, Trump justru memberikan pujian yang lebih pribadi.
"Saya sangat menghormati China. Anda telah melakukan pekerjaan yang hebat. Anda adalah pemimpin besar. Saya katakan ini kepada semua orang, dan itu benar adanya."
Trump juga memuji barisan anak-anak China yang disiapkan untuk menyambutnya. "Saya sangat terkesan dengan anak-anak ini. Mereka tampak bahagia, cantik, dan luar biasa," katanya kepada Xi.
Kritik terhadap Pujian Trump
Pujian Trump kepada Xi tidak luput dari sorotan. Kritik datang dari berbagai kalangan, termasuk William Kristol dalam tulisannya yang berjudul "Our Kowtower-in-Chief". Ia membandingkan sikap Trump dengan Duta Besar John Ward pada tahun 1859 yang menolak untuk melakukan kowtow di hadapan Kaisar China.
Kristol menulis, "Tidak seperti Ward, Trump justru menyambut pujian dengan senang hati. Ia bahkan menyebut pertemuan ini sebagai 'yang terbesar sepanjang sejarah', padahal tidak ada yang membicarakan hal tersebut di Amerika Serikat."
Menurut Kristol, kebijakan luar negeri Trump lebih didorong oleh pencitraan diri daripada substansi. Ia menambahkan, "Saya telah berkeliling beberapa hari terakhir, dan tidak ada yang membicarakan pertemuan ini sebagai yang terbesar."
Dari 'Kesepakatan Besar' hingga Permohonan Bantuan
Rencana awal Trump untuk pertemuan ini adalah mencapai 'kesepakatan besar' dengan China. Namun, seiring berjalannya waktu, tujuan tersebut menyusut menjadi sekadar permohonan bantuan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Politico melaporkan bahwa pertemuan Trump-Xi kini disebut sebagai 'pertemuan yang menyusut'. Hal ini mencerminkan perubahan drastis dalam ekspektasi dan pencapaian yang diharapkan dari kunjungan kenegaraan tersebut.