AI Mempermudah Penjahat Siber Melancarkan Penipuan

Penegak hukum semakin kewalahan menghadapi penjahat siber yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan skema penipuan kripto yang lebih meyakinkan. Para ahli mengungkapkan bahwa serangan siber meningkat tajam akibat penggunaan AI.

Kemudahan dalam Menipu dengan AI

Cynthia Kaiser, Wakil Presiden Senior di Halcyon Ransomware Research Center, menjelaskan bahwa AI memudahkan penjahat untuk berbohong dan membuat email berisi tautan berbahaya serta deepfake yang sulit dibedakan.

"AI memudahkan untuk berbohong, membuat email berisi tautan berbahaya yang meyakinkan, serta menciptakan deepfake yang sulit dideteksi," ujar Kaiser dalam sidang gabungan dua subkomite Kongres AS pada Selasa.

Ari Redbord, Kepala Kebijakan Global di TRM Labs, menyebutkan bahwa aktivitas penipuan yang memanfaatkan AI meningkat hingga 500% dalam setahun terakhir.

AI dalam Serangan terhadap DeFi

Para ahli juga mengungkapkan bahwa penjahat siber kini menggunakan AI untuk mencari celah dalam protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi). Mereka memanfaatkan kesalahan yang mungkin luput dari auditor untuk melancarkan serangan.

Ancaman Baru bagi Korban Penipuan

Megan Stifel, Direktur Strategi di Institute for Security and Technology, menjelaskan bahwa AI memungkinkan penjahat untuk dengan cepat menganalisis data dan mempelajari detail keuangan korban. Hal ini membuat skema penipuan semakin meyakinkan.

"Mereka menggunakan kemampuan analisis ini untuk menanggapi setiap upaya pemblokiran yang dilakukan korban, sehingga korban semakin sulit untuk menghindari pembayaran," kata Stifel.

Jacqueline Burns Koven, Kepala Intelijen Ancaman Siber di Chainalysis, menambahkan bahwa banyak penjahat menjual perangkat lunak AI untuk membantu pelaku penipuan menyamar sebagai orang lain guna menipu korban agar melakukan investasi palsu.

Ancaman yang Semakin Menakutkan

Kaiser menekankan bahwa AI membuka peluang bagi orang-orang yang sebelumnya tidak mampu melakukan serangan kini dapat melakukannya. Ia juga memperingatkan bahwa tim keamanan akan kelelahan jika tidak menggunakan teknologi serupa.

"Ada banyak orang yang tidak bisa melakukan serangan kemarin, tapi bisa melakukannya hari ini berkat AI," kata Kaiser.

Redbord menambahkan bahwa meskipun ancaman ini menakutkan, pihak berwenang AS berupaya mengadopsi alat canggih serupa untuk memerangi penipuan tersebut.

"Penjahat selalu menjadi pengguna awal teknologi transformatif. Kita perlu bergerak secepat mereka, dan alat yang dibutuhkan sudah ada hari ini," ujarnya.

Perubahan Hukum Diperlukan

Kaiser, yang sebelumnya bekerja di FBI, menyarankan agar undang-undang dimodifikasi untuk lebih efektif melawan lonjakan kejahatan siber. Ia mengusulkan agar Departemen Luar Negeri, Kehakiman, dan Keuangan mengevaluasi apakah otoritas penunjukan terorisme dalam undang-undang yang ada dapat diterapkan pada aktor ransomware yang secara sengaja menargetkan rumah sakit.

"Saya tidak meminta penunjukan hari ini. Yang saya katakan adalah perlunya analisis hukum yang jujur untuk menentukan apakah undang-undang yang ada memenuhi ambang batas tersebut," jelasnya.

Kesimpulan

Para ahli sepakat bahwa AI telah menjadi senjata baru bagi penjahat siber, mempermudah mereka untuk melakukan penipuan dalam skala yang lebih luas. Sementara itu, penegak hukum dan lembaga keamanan perlu beradaptasi dengan cepat untuk menghadapi ancaman ini.

Sumber: DL News