Mundur dari Tim Pers JD Vance

Buckley Carlson, putra Tucker Carlson, dikabarkan mundur dari jabatan deputi sekretaris pers Wakil Presiden JD Vance. Ia kini berencana membuka firma konsultan politik sendiri, menurut beberapa laporan media.

Keluarnya Buckley terjadi di tengah ketegangan yang memanas antara ayahnya dengan mantan Presiden Donald Trump. Trump baru-baru ini menyebut Tucker Carlson sebagai "orang ber-IQ rendah". Buckley sendiri mulai menjabat sejak Januari 2025.

Ketegangan Politik yang Memanas

Hubungan antara Tucker Carlson dan Trump memburuk sejak Trump mengambil keputusan menyerang Iran. Carlson sebelumnya diketahui sangat menentang serangan tersebut. Ia juga pernah menuding Trump mungkin dikendalikan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

"Orang gagal seperti Tucker Carlson, yang bahkan tidak bisa menyelesaikan kuliah, hancur setelah dipecat dari Fox, dan tidak pernah pulih — mungkin sebaiknya dia ke psikiater!"

— Donald Trump dalam postingan Truth Social, awal bulan ini

Latar Belakang Buckley Carlson

Buckley memulai kariernya di tim komunikasi JD Vance sejak awal masa jabatan kedua Trump. Posisinya lebih banyak di belakang layar. Politico melaporkan bahwa ia sebenarnya sudah berencana keluar tahun lalu, namun tetap bertahan untuk membantu transisi tim.

Usia Buckley tidak diketahui secara pasti, namun diperkirakan kini berusia akhir 20-an. Sebelumnya, ia pernah bekerja sebagai deputi kepala staf untuk mantan anggota Kongres Jim Banks (R-Indiana) dan menjadi direktur komunikasi pada 2021.

Peran di Tim JD Vance

Selama menjabat, Buckley melapor langsung kepada Taylor Van Kirk, sekretaris pers JD Vance. Van Kirk sebelumnya pernah menjadi direktur komunikasi dalam kampanye Senat JD Vance tahun 2022 dan sekretaris pers dalam kampanye presiden.

Keluarnya Staf di Masa Jabatan Kedua Trump

Mundurnya Buckley bukanlah kasus tunggal. Beberapa staf di Gedung Putih juga telah keluar dan masuk dalam posisi berbeda selama masa jabatan kedua Trump yang kini memasuki tahun kedua. Hal ini menunjukkan dinamika politik yang terus berubah.

Sumber: The Wrap