Cepat — apa yang dimiliki Christoph Waltz, Javier Bardem, dan Mads Mikkelsen? Dua jawaban untuk yang mencatat: Ketiganya pernah berperan sebagai lawan James Bond di layar lebar, dan masing-masing pernah memenangkan Piala Aktor Terbaik di Cannes. Kombinasi langka ini bukanlah kebetulan, terutama karena klub kecil tersebut—yang juga mencakup Jonathan Pryce dan Benicio del Toro—berpotensi menambah anggota baru tahun ini.

Hingga saat ini, rumor masih beredar mengenai aktor yang akan memerankan penjahat berikutnya dalam waralaba Bond. Para pemenang Cannes seperti Wagner Moura dan Jean Dujardin disebut-sebut masuk dalam daftar, begitu pula Christian Friedel, bintang The Zone of Interest, yang filmnya hanya meraih Grand Prix pada 2023. Berkat musikal drama karya Ira Sachs berjudul The Man I Love—salah satu dari dua judul Amerika yang bersaing di kompetisi tahun ini—Rami Malek, yang juga merupakan aktor utama dalam film James Bond, memiliki kesempatan langka untuk meraih dua penghargaan sekaligus.

Kehadiran Amerika di Cannes yang Semakin Berkurang

Tahun ini, kehadiran film Amerika di Cannes terasa lebih sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada jejak studio besar yang membawa film blockbuster seperti Mission: Impossible — The Final Reckoning, Furiosa: A Mad Max Saga, Indiana Jones and the Dial of Destiny, atau Top Gun: Maverick ke selatan Prancis. Namun, meski kehadiran Amerika tampak berkurang, kehadirannya tetap terasa.

Jika film-film blockbuster musim panas ini hanya akan tampil sebagai spanduk di sepanjang Croisette, film-film untuk tahun depan justru sedang disiapkan di dalam Palais. Cannes selalu menjadi batu loncatan bagi aktor Eropa yang ingin menembus Hollywood melalui Riviera. Polanya konsisten selama bertahun-tahun: aktor internasional meraih kesuksesan di negaranya, kemudian menarik perhatian di Cannes, dan akhirnya memanfaatkan momentum tersebut di California. Inilah yang membentuk generasi aktor karakter kontinental dengan daya tarik yang khas.

Dari Cannes ke Hollywood: Jejak Aktor yang Berhasil

Untuk melihat jejak tersebut dengan jelas, lihatlah Mathieu Amalric, aktor Prancis yang energik. Pada Mei 2007, ia meraih Grand Prix di Cannes melalui film The Diving Bell and the Butterfly. Kurang dari empat bulan kemudian, ia sudah berada di lokasi syuting Quantum of Solace. Tahun itu, 4 Months, 3 Weeks and 2 Days karya Cristian Mungiu memenangkan Palme d’Or. Sekarang, 19 tahun kemudian, sang sutradara asal Rumania kembali ke kompetisi dengan film Fjord, yang menjadi simbol paradigma baru di mana jalur antara Cannes dan Hollywood tidak lagi satu arah.

Renate Reinsve, bintang Fjord, menjadi contoh nyata. Setelah memenangkan Piala Aktris Terbaik di Cannes 2021 melalui The Worst Person in the World, ia meraih nominasi Oscar tahun lalu untuk film Sentimental Value—tanpa meninggalkan Norwegia. Sementara itu, rekan mainnya di Fjord, Sebastian Stan, justru membalikkan pola tradisional. Ia beralih dari peran utama dalam film blockbuster ke dunia perfilman auteur Eropa, sekaligus membangun kembali prospek penghargaannya.

Dengan semakin internasionalnya badan AMPAS dan industri yang kini membutuhkan film dewasa beranggaran menengah, Cannes mendapatkan keuntungan besar. Perubahan ini membantu aktor Eropa untuk lebih mudah menembus pasar Hollywood tanpa harus meninggalkan akar mereka di Eropa.

Sumber: The Wrap