RIGA, Latvia — Pada 14 Oktober 2025, Declan Rice tampil sebagai andalan Inggris dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Latvia. Dengan performa konsisten sejak debut tahun 2019, Rice kini menjadi pemain kunci bagi Thomas Tuchel di lini tengah. Dengan 72 caps, ia siap memimpin Inggris menuju turnamen besar musim panas ini.
Rice bukan sekadar pemain biasa. Kombinasi kecepatan, kekuatan, kecerdasan taktis, dan fleksibilitas menjadikannya salah satu gelandang terbaik dunia. Ia mampu berperan sebagai gelandang bertahan ganda, gelandang box-to-box, atau bahkan sebagai pemain hibrida nomor 6 dan 8. Di level internasional, Tuchel kerap menempatkannya sebagai bagian dari double pivot, seperti saat berpasangan dengan Elliot Anderson dalam formasi 4-2-3-1 yang menjadi andalan tim.
Di klub, Rice bergabung dengan Arsenal dengan rekor transfer £105 juta tiga tahun lalu. Ia langsung menjadi pilar pertahanan terbaik di Eropa, sering bermain di double pivot bersama Martín Zubimendi musim ini. Baik Mikel Arteta maupun Tuchel menyadari bahwa Rice berperforma maksimal ketika diberi kebebasan membaca permainan dan bergerak dinamis.
Peran Kunci Rice dalam Tim
Rice bukan hanya pemain bertahan. Ia juga mampu memulai serangan dan menutup celah serangan lawan sebelum berkembang. Ketika rekan setim kehilangan bola, Rice seringkali langsung merebutnya kembali melalui tekel, perebutan bola, atau pemotongan umpan. Ia juga dikenal sebagai pemain yang sigap membersihkan kekacauan saat pertahanan terdesak.
Sejak bergabung dengan Arsenal, Rice terus meningkatkan kontribusinya. Dari hanya beberapa keterlibatan gol di West Ham, kini ia konsisten mencetak 15-20 kontribusi gol per musim di semua kompetisi. Keahliannya dalam tendangan bebas juga menjadi senjata tambahan bagi tim.
Dukungan untuk Piala Dunia 2026
Dengan pengalaman 72 caps dan peran kunci di lini tengah, Rice siap memimpin Inggris di Piala Dunia 2026. Kombinasi kecerdasan taktis, fisik yang tangguh, dan kemampuan adaptasi menjadikannya pemain yang tak tergantikan. Apakah Inggris siap merebut trofi pertamanya sejak 1966 dengan Rice sebagai pemimpin di lapangan?