Jakarta — Baru-baru ini, FBI mengambil langkah luar biasa dengan mengirim pesawat ke Kuba untuk membawa pulang seorang anak warga Amerika Serikat yang diduga diculik. Keputusan ini didasari oleh laporan keluarga bahwa penculik anak tersebut berencana melakukan operasi perubahan jenis kelamin terhadap korban yang berusia 10 tahun.
Pada 21 April, jaksa federal mengumumkan penangkapan dan dakwaan terhadap orang tua anak tersebut serta pasangannya. Orang tua yang kini ditahan di lembaga pemasyarakatan federal tersebut adalah seorang wanita transgender.
Meski demikian, kebenaran di balik tuduhan ini masih belum terungkap sepenuhnya. Laporan media, termasuk The New York Times, menyebutkan bahwa informasi yang tersedia sangat minim. Namun, Direktur FBI Kash Patel justru memanfaatkan momen ini untuk mempromosikan pencapaian agensinya di media sosial X (sebelumnya Twitter).
“FBI dan mitra kami bertindak cepat menyelamatkan anak yang diculik dan dibawa ke Kuba oleh orang tua penculik yang diduga berencana melakukan transisi gender terhadap anak tersebut,” tulis Patel dalam unggahan yang kemudian tersebar luas.
Kisah ini dengan cepat menyebar di media kanan maupun kiri, dengan berbagai sudut pandang. The New York Times, yang sebelumnya pernah memublikasikan artikel meragukan kebutuhan perawatan afirmasi gender bagi anak-anak, menyebut kasus ini sebagai “kasus hak asuh transgender”. hampir semua pemberitaan mengulang klaim jaksa federal bahwa perjalanan ke Kuba merupakan upaya penculikan anak untuk tujuan operasi perubahan jenis kelamin, sebuah pernyataan yang merujuk pada dokumen pengadilan federal.
Media kanan seperti The Daily Wire melihat kasus ini sebagai pembenaran atas narasi panjang mereka yang menggambarkan orang transgender sebagai predator dan perawatan afirmasi gender sebagai tindakan berbahaya. Media ini pernah memproduksi film propaganda anti-trans berjudul What Is a Woman? serta menyelenggarakan “Rally to End Child Mutilation” pada 2022 bersama tokoh seperti Matt Walsh dan Senator Marsha Blackburn untuk mendorong pelarangan perawatan afirmasi gender.
Dalam gelombang pemberitaan yang mengiringi kasus ini, satu detail penting justru terabaikan: apakah terdakwa benar-benar berencana melakukan operasi terhadap anak tersebut? Menurut Associated Press, “Tidak jelas dari dokumen pengadilan apakah terdakwa benar-benar merencanakan operasi bagi anak tersebut.”
Satu-satunya sumber untuk klaim adanya rencana operasi berasal dari pernyataan tertulis FBI Agent Jennifer M. Waterfield, yang mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari “squad kejahatan kekerasan terhadap anak di kantor wilayah Salt Lake City”. Pernyataan Waterfield, yang diajukan pada 16 April, menjadi dasar dakwaan terhadap terdakwa. Dokumen pengadilan tersebut hanya terdiri dari empat halaman narasi yang menjadi sumber utama klaim penculikan untuk tujuan operasi perubahan jenis kelamin.