Krisis Energi Global Meluas: Delapan Negara Terpengaruh
Gangguan di Selat Hormuz kini telah berubah dari sekadar peristiwa harga komoditas menjadi krisis kebijakan ekonomi global. International Energy Agency (IEA) melaporkan bahwa ekspor minyak mentah dan produk olahan melalui selat tersebut turun hingga kurang dari 10% dari tingkat sebelum konflik. Pada 2025, sekitar 20 juta barel per hari melewati Selat Hormuz—setara dengan seperempat perdagangan minyak laut global. Dampak ini tidak lagi hanya terlihat pada grafik harga minyak Brent.
Respons Kebijakan Darurat Meluas
IEA mencatat respons kebijakan darurat kini melibatkan delapan negara besar. Amerika Serikat mengizinkan pelepasan 172 juta barel dari cadangan minyak strategisnya, dengan pengiriman diperkirakan memakan waktu 120 hari. Sementara itu, delapan anggota OPEC+ sepakat menambah pasokan sebesar 206 ribu barel per hari pada April 2026, meski langkah ini hanya berdampak kecil dibandingkan dengan perkiraan gangguan yang lebih luas.
IEA juga meluncurkan Energy Crisis Policy Response Tracker yang mencatat langkah-langkah pemerintah untuk mengatasi krisis energi. Beberapa negara menerapkan:
- Sri Lanka: Penerapan sistem kuota bahan bakar berbasis QR.
- Korea Selatan: Pembatasan mobil berdasarkan nomor ganjil-genap dan pengendalian harga bahan bakar.
- India: Kontrol harga LPG dan bahan bakar.
- Pakistan: Penerapan kerja jarak jauh dan peningkatan transportasi umum.
- Jepang: Subsidi untuk membatasi harga bahan bakar.
- Jerman: Pengaturan pajak dan harga bahan bakar.
- Cina: Kontrol harga minyak olahan.
- Inggris: Dukungan untuk minyak pemanas dan sektor industri.
IEA juga merekomendasikan langkah-langkah pengurangan permintaan seperti pembatasan kecepatan kendaraan, peningkatan penggunaan transportasi umum, dan pengurangan perjalanan udara.
Dampak terhadap Bitcoin: Dua Jalan Menuju 2026
Bagi Bitcoin, krisis energi ini menghadirkan dua skenario utama. Pertama, jika pasar melihat krisis ini sebagai faktor yang membuat inflasi tetap tinggi dan kondisi keuangan ketat, Bitcoin bisa kembali berperilaku sebagai aset berisiko tinggi. Kedua, jika kebijakan pemerintah bersifat akomodatif—seperti pemotongan pajak, subsidi, atau pelepasan cadangan minyak—Bitcoin berpotensi kembali ke narasi sebagai aset langka yang tahan inflasi.
U.S. Energy Information Administration (EIA) memperkirakan produksi minyak di Timur Tengah akan mengalami penurunan rata-rata 7,5 juta barel per hari pada Maret 2026, puncaknya mencapai 9,1 juta barel per hari pada April, dan menyebabkan penurunan inventaris global sebesar 5,1 juta barel per hari pada kuartal kedua. Harga minyak Brent diperkirakan akan rata-rata $115 per barel pada kuartal kedua 2026 sebelum mereda menjelang akhir tahun.
Peran Crypto dalam Krisis Global
"Iran kini menjadikan 'minyak digital' sebagai target perang, dan peran crypto dalam pasar global terlihat berbeda sekarang."
Liam 'Akiba' Wright, 20 April 2026
Krisis ini juga menyoroti peran cryptocurrency dalam perdagangan internasional. Dengan ketidakpastian di pasar minyak, aset digital seperti Bitcoin berpotensi menjadi alternatif dalam sistem keuangan global yang tengah mengalami tekanan.