Google mendorong seluruh karyawannya, dari insinyur perangkat lunak hingga staf non-teknis, untuk sepenuhnya mengadopsi kecerdasan buatan (AI). Dorongan ini rupanya membawa dampak signifikan terhadap produktivitas perusahaan.

Dalam postingan blog Rabu (11/9), CEO Google Sundar Pichai mengungkapkan bahwa tiga perempat kode baru perusahaan kini dihasilkan oleh AI. Angka ini meningkat pesat dari 50% yang dicatat pada musim gugur tahun lalu.

"Kami telah menggunakan AI untuk menghasilkan kode secara internal di Google selama beberapa waktu. Hari ini, 75% dari semua kode baru di Google kini dihasilkan AI dan disetujui oleh insinyur, naik dari 50% musim gugur lalu," kata Pichai.

Lebih lanjut, Pichai menjelaskan bahwa Google tengah beralih ke alur kerja otonom. "Insinyur kami kini mengatur pasukan tugas digital yang sepenuhnya otonom, meluncurkan agen dan menyelesaikan tugas luar biasa," tulisnya.

Google tidak hanya mengandalkan AI untuk pengembangan perangkat lunak. Pichai menyebutkan bahwa tim pemasaran perusahaan menggunakan model AI untuk menghasilkan ribuan variasi aset kreatif dalam waktu singkat. "Penggunaan AI mempercepat proses 70% dan meningkatkan konversi 20%, memungkinkan kami meluncurkan produk lebih cepat dan efektif," katanya.

AI Meningkatkan Produktivitas Enam Kali Lipat

Salah satu contoh konkret dampak AI adalah migrasi kode kompleks yang diselesaikan oleh agen AI dan insinyur. Proses ini selesai enam kali lebih cepat dibandingkan setahun lalu ketika hanya melibatkan insinyur manusia.

Richard Seroter, Direktur Senior dan Kepala Evangelis Google Cloud, menekankan pentingnya peran manusia dalam proses ini. "Persetujuan manusia terhadap kode yang dihasilkan AI sangat krusial di era ini. Hal ini memungkinkan insinyur untuk fokus pada tugas bernilai lebih tinggi, seperti arsitektur sistem, desain, dan pemecahan masalah kompleks," jelasnya.

Menurut Seroter, peran insinyur perangkat lunak di Google kini telah berevolusi. "Insinyur perangkat lunak kini bertransformasi menjadi insinyur produk atau arsitek, karena mereka beralih dari pemrograman manual ke model operasional otonom," ujarnya.

"Batasan lama telah hilang. Insinyur Google tidak lagi terbatas oleh waktu atau energi manusia, tetapi dapat menggunakan AI untuk mengeksplorasi berbagai ide yang bermanfaat bagi pengguna," tambah Seroter.

Investasi Besar untuk Infrastruktur AI

Google tengah giat mengembangkan infrastruktur AI. Dalam konferensi Cloud Next 2026, perusahaan mengumumkan peluncuran dua chip AI baru serta rilis platform Gemini Enterprise Agent.

Pichai juga mengumumkan rencana investasi hingga $185 miliar untuk mendukung agen AI otonom. Selain itu, Google Cloud baru-baru ini menjalin kerja sama multimiliar dolar dengan Thinking Machines Lab, yang dipimpin oleh mantan eksekutif OpenAI, Mira Murati, untuk memperluas infrastruktur AI.

Dalam beberapa tahun ke depan, Google akan memprioritaskan pengalaman berbasis agen. "Fase eksperimental asisten sederhana telah berakhir. Sekarang adalah era di mana AI dan agen harus menyelesaikan pekerjaan relevan yang diarahkan oleh manusia," kata Seroter.

"Untuk Google, beberapa tahun ke depan akan berfokus pada transisi dari sekadar pembuatan kode ke pengelolaan agen yang lebih canggih," pungkasnya.