Jeanine Pirro tak segan mengkritik keras media yang saat ini meliput pemerintahan Donald Trump. Ia menyebut para jurnalis masa kini sebagai 'tidak waras' dalam menanggapi jabatan presiden.
Pirro, yang kini menjabat sebagai jaksa federal untuk Distrik Columbia, menyampaikan pendapatnya dalam acara podcast We’ll Do It Live! milik Bill O’Reilly pada Kamis (12/6). Saat O’Reilly menyayangkan mayoritas media modern yang 'anti-Trump', ia kembali memperingatkan tentang acara makan malam Wartawan Gedung Putih. "Saya tidak ingin jabatan kepresidenan diserang di acara yang tidak penting," ujar O’Reilly, yang disambut persetujuan Pirro.
"Saya menghargai itu," respons Pirro. "Mereka benar-benar tidak waras. Tidak ada rasa hormat terhadap jabatan ini."
Pirro kemudian membandingkan liputan media terhadap Presiden Barack Obama semasa menjabat. "Saya maksudkan, cara kami meliput Presiden Obama adalah—kami tidak setuju dengan kebijakannya, tapi kami tidak menciptakan kekacauan," katanya. "Mereka tidak setuju dengan kami, tapi justru menciptakan kekacauan, kekerasan, dan berbagai masalah."
Ketika ditanya apakah 'kekacauan' tersebut memengaruhi pekerjaannya, Pirro menjawab: "Tidak. Tapi pekerjaan saya, Bill, adalah mengembalikan jabatan ini dari keadaan yang terabaikan." Simak pernyataannya dalam video di bawah ini.
Hubungan Fox News dengan pemerintahan Obama memang penuh ketegangan. Jaringan berita tersebut kerap mengkritik kebijakan hingga gaya berpakaian Obama, termasuk soal 'baju cokelat' yang sempat viral. Pada saat itu, Direktur Komunikasi Gedung Putih Anita Dunn menuding Fox News beroperasi "sebagai bagian riset atau komunikasi Partai Republik."
Obama sendiri pernah berkomentar, "Jika media beroperasi seperti format radio talk show, itu satu hal. Tapi jika sebagai outlet berita, itu hal lain."
Namun, ketegangan saat ini antara pemerintahan Trump dan media jauh lebih tajam. Selain menyebut media sebagai 'berita palsu', Trump juga menggugat beberapa outlet besar seperti The New York Times, BBC, dan Des Moines Register. Ia juga kerap menyerang wartawati dengan kata-kata kasar seperti 'jorok', 'babi', 'mengerikan', 'jelek', dan 'tidak kompeten'.
Pada tahun lalu, juru bicara Gedung Putih Abigail Jackson membela Trump dengan menyatakan, "Presiden Trump tidak pernah mengikuti aturan politik yang benar. Ia tidak pernah menahan diri, dan sebagian besar masyarakat Amerika memilihnya kembali karena transparansi ini."
Jackson menambahkan, "Ini bukan soal gender—ini soal kepercayaan masyarakat dan presiden terhadap media yang berada pada titik terendah."