Jim Acosta mendesak para jurnalis untuk “mundur dari acara Makan Malam Wartawan Gedung Putih” pada Sabtu mendatang jika pidato Donald Trump berisi serangan terhadap media. Seruan tegas tersebut disampaikan dalam episode terbaru program “The Jim Acosta Show”, yang juga dihadiri oleh legenda jurnalisme, Katie Couric.

Pembicaraan ini muncul setelah Couric bertanya kepada Acosta mengenai reaksinya jika Trump “berdiri dan menyerang serta menyebut-nyebut para wartawan di ruangan itu”.

“Saya akan katakan persis apa yang saya pikirkan. Setiap Jumat, saya kadang membuat segmen yang disebut ‘F–k It Friday’, di mana saya kadang-kadang melepaskan unek-unek di Substack atau YouTube,”

Acosta menjawab, “Jika Trump mulai melakukan itu, para wartawan di ruangan harus mundur! Mereka harus berdiri dan pergi!”

Ketika Couric menyangsikan apakah para jurnalis benar-benar akan melakukan hal tersebut, Acosta mengakui kemungkinan itu kecil. “Saya tahu! Tapi itulah pendapat pribadi saya,” katanya. “Menurut saya, media adalah salah satu lembaga terakhir di negara ini yang menyadari bahwa kita harus melawan para pembully.”

Meskipun mengakui bahwa menjadi wartawan berarti siap menghadapi serangan, Acosta tetap teguh dengan pendapatnya. Ia menambahkan, “Kita harus berdiri untuk sesuatu, untuk profesi kita, dan untuk Amandemen Pertama. Saya dengar dia akan datang, menghina semua orang, lalu pergi tanpa menghadiri penghargaan atau acara toast untuk Amandemen Pertama.” Ia menyebut hal tersebut sebagai “tragedi”.

Acara tahunan di Washington, D.C., ini akan menjadi pertama kalinya Trump hadir sebagai presiden. Lebih dari 250 jurnalis dan kelompok advokasi media telah menandatangani petisi untuk menolak kehadirannya.

Weijia Jiang, Presiden White House Correspondents’ Association (WHCA), mengatakan kepada CNN, “Semua yang hadir telah memilih untuk berada di sana dengan kesadaran bahwa acara ini menghormati pentingnya Amandemen Pertama. Terutama di tahun yang menandai 250 tahun Amerika Serikat, keputusan kami untuk berkumpul—sebagai jurnalis, pembuat berita, dan presiden dalam satu ruangan—adalah pengingat akan makna kebebasan pers di negara ini.”

Sumber: The Wrap