Penyedia likuiditas (LP) di jaringan MegaETH mengungkapkan kekecewaan mendalam seusai peluncuran token MEGA pada 30 April 2026. Pasalnya, Kumbaya—DEX utama jaringan—diduga mengambil 50% dari biaya perdagangan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Berdasarkan data DeFiLlama, dalam rentang 30 April hingga 1 Mei 2026, Kumbaya berhasil mengumpulkan lebih dari $375.000 dari biaya protokol.
Ketegangan meningkat setelah pengguna di platform X (sebelumnya Twitter) menemukan informasi pembagian biaya tersebut melalui data on-chain, yang ternyata tidak tercantum di situs resmi Kumbaya. Salah satu pengguna mengaku merasa dikhianati karena Kumbaya sebelumnya menjanjikan poin atau token bagi LP di kolam tertentu melalui logo di antarmuka pengguna, yang kemudian diam-diam dihapus.
Beberapa pengguna bahkan menyarankan untuk beralih ke pesaing seperti Prism, yang hanya mengambil 25% biaya LP. Perbandingan dengan Uniswap, yang memiliki porsi biaya LP jauh lebih rendah, semakin memperuncing protes. Kumbaya disebut-sebut memanfaatkan lonjakan aktivitas perdagangan selama peluncuran MEGA untuk mengambil keuntungan besar.
Menanggapi kecaman tersebut, tim Kumbaya berjanji akan merilis dokumentasi terbaru dan rincian struktur biaya pada hari berikutnya. Namun, beberapa jam kemudian, mereka juga mengumumkan bahwa DEX dinyatakan aman digunakan setelah adanya security alert yang diduga berasal dari laporan pengguna yang marah.
"Jadi terminal DEX MegaETH mengambil 50% dari biaya LP kalian. Saya sudah kasih mereka $4.000 pagi tadi."
Tweet tersebut menjadi salah satu unggahan yang menyebar luas, mencerminkan ketidakpuasan masyarakat. Sementara itu, pengacara crypto Gabriel Shapiro memberikan sudut pandang berbeda dengan menyatakan bahwa "kode itulah pengungkapan". Ia menekankan bahwa prinsip decentralized finance (DeFi) adalah transparansi melalui kode yang dapat diakses publik.
Sejak peluncuran, token MEGA mengalami penurunan sekitar 25% dengan valuasi penuh sekitar $1,5 miliar.
Kesalahan MegaETH yang Berulang
Ini bukan pertama kalinya MegaETH menghadapi masalah. Pada November 2025, jaringan ini mengalami kegagalan dalam acara pre-deposit yang sangat dinantikan. Meskipun mengklaim sebagai blockchain real-time tercepat dengan 100.000 transaksi per detik dan waktu blok di bawah 10 milidetik, antrean KYC yang padat menyebabkan banyak calon deposan gagal mendaftar. Kuota awal sebesar $250 juta terisi hanya dalam tiga menit.
Untuk menebus kesalahan, tim MegaETH berencana menaikkan kuota menjadi $1 miliar dengan menyiapkan transaksi pre-signed di dompet multisig proyek. Namun, transaksi tersebut justru dieksekusi lebih cepat oleh seorang pengguna bernama chud.eth dengan pesan "oops". Akhirnya, tim memutuskan untuk menetapkan kuota menjadi $500 juta. Dalam pernyataan resmi, mereka mengaku bahwa "pihak yang bertanggung jawab tidak memahami fitur Safe tertentu".