James VandeHei Jr., 21, mahasiswa tingkat akhir di High Point University sekaligus pemain sepak bola Divisi I, berbagi kisah di balik aplikasi Politik yang baru saja diluncurkan. Inspirasi datang dari surat ayahnya tentang AI yang dibacanya pada Januari lalu, tepat saat dirinya tengah mendalami teknologi tersebut.

Bersama dua temannya, Charlie Stallmer (Holy Cross) dan Chris Brophy (University of Denver), ketiganya—yang juga mahasiswa tingkat akhir—berencana membangun sebuah aplikasi. Ide tersebut muncul setelah mereka menyadari bahwa data suara pemimpin, dana kampanye, dan aktivitas legislatif sebenarnya terbuka untuk publik, namun sulit diakses.

Politik (dengan slogan Congress in Your Pocket) hadir sebagai solusi. Aplikasi nonpartisan berbasis data ini membantu masyarakat memahami cara pemimpin mereka memilih dan sumber dana kampanye mereka. Cukup masukkan kode pos, dan Politik akan menampilkan informasi terkait. Pengguna juga dapat mengajukan pertanyaan tentang isu-isu tertentu atau prosedur legislatif.

Yang mengejutkan, ketiganya—yang mengambil jurusan hubungan internasional—tidak memiliki pengalaman sama sekali dalam pemrograman atau pengembangan aplikasi. Namun, berkat AI, hal tersebut bukan lagi hambatan.

AI sebagai Katalisator

Mereka memetakan strategi dan mempelajari berbagai keterampilan baru, seperti pembuatan grafik gerak, animasi, kampanye pemasaran otomatis, hingga prototipe aplikasi. Rahasia sukses mereka terletak pada Nate Laquis, seorang programmer mandiri dan ahli AI yang tidak memiliki latar belakang ilmu komputer.

Nate, yang juga seorang mahasiswa jurusan keuangan, membangun aplikasi Politik dalam waktu kurang dari tiga bulan. Ia kini telah mendirikan agensi pengembangan perangkat lunak bernama Kanopy Labs. Keberhasilan ini membuktikan bahwa passion dan AI dapat menjadi kombinasi yang kuat.

Pelajaran yang Didapat

AI tidak hanya mempercepat proses pengembangan, tetapi juga memungkinkan siapa pun untuk mewujudkan ide tanpa harus menjadi ahli pemrograman. VandeHei menekankan pentingnya memilih satu bidang yang benar-benar diminati dan mengeksplorasinya dengan AI.

"AI memperkuat passion. Itu berlaku untuk semua orang—saya, ayah saya, Nate, hingga nenek saya. Setiap hari, selalu ada model atau alat baru yang muncul. Saran saya: Pilih satu hal yang benar-benar Anda cintai dan eksplorasilah dengan AI."

Selain itu, konteks menjadi kunci. Dengan membuat file keterampilan dan memori untuk model AI, proses yang semula memakan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam 20 menit. Misalnya, mereka menggunakan Claude Code untuk menganalisis setiap konten video berdasarkan panduan merek dan keterampilan pengembangan sebelumnya.

VandeHei juga mengingatkan pentingnya merancang prompt yang tepat. Meski terlihat sederhana, detail yang terlewatkan dapat memengaruhi hasil. "Semakin sering Anda menggunakan LLM, semakin sulit untuk mengabaikan detail penting. Jangan terburu-buru," ujarnya.

Sumber: Axios