Shell mencatatkan laba bersih hampir $7 miliar pada kuartal pertama tahun 2024. Angka ini melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan laba kuartal keempat 2023 yang hanya sebesar $3,3 miliar.
Kenaikan laba yang signifikan ini memicu kemarahan publik, terutama karena harga bahan bakar di Amerika Serikat terus melambung. Harga bensin nasional kini mencapai $4,558 per galon, sementara harga solar hanya 14,2 sen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa sebesar $5,816. Bandingkan dengan setahun lalu, ketika harga bensin hanya $3,154 per galon.
Masyarakat yang merasakan dampak langsung dari kenaikan harga ini menuding perusahaan minyak besar, termasuk Shell, sebagai pihak yang menikmati keuntungan besar akibat ketegangan geopolitik, terutama perang di Timur Tengah. CEO Shell, Wael Sawan, menyebut situasi ini sebagai “gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya di pasar energi global.”
Laba Melesat, Investor Dapat Dividen dan Pembelian Saham
Dalam laporan keuangannya, Shell mengumumkan laba disesuaikan sebesar $6,9 miliar pada kuartal pertama 2024. Angka ini jauh melampaui capaian kuartal sebelumnya yang hanya $3,3 miliar.
Untuk menarik minat investor, Shell mengumumkan rencana pembelian kembali saham senilai $3 miliar serta kenaikan dividen sebesar 5%. Setiap pemegang saham akan menerima dividen sebesar $0,3906 per lembar saham. Namun, reaksi pasar tidak terlalu antusias. Saham Shell justru turun 3,39% hari ini.
Dampak Perang di Timur Tengah terhadap Operasional Shell
Meskipun mencetak laba besar, Shell mengakui bahwa operasional mereka terpengaruh oleh perang di Timur Tengah. Sekitar 20% produksi gas dan minyak perusahaan ini berasal dari wilayah tersebut. Meskipun aset di Oman masih beroperasi, konflik di wilayah lain menyebabkan gangguan signifikan.
Protes Publik dan Kritik dari Greenpeace
Kemarahan masyarakat terhadap keuntungan besar Shell pun meledak. Para pengemudi dan aktivis lingkungan menyuarakan protes mereka di media sosial maupun secara langsung. Greenpeace UK bahkan menampilkan kritik mereka secara terbuka dengan memproyeksikan pesan di gedung kantor pusat Shell di London.
"Laba Shell telah berlipat ganda sejak Trump memulai perang ilegal dengan Iran. Mereka menghasilkan miliaran dolar sementara ribuan orang meninggal, wilayah menjadi tidak stabil, dan tagihan energi masyarakat melonjak," ujar Greenpeace.
Organisasi tersebut juga menyebut Shell dan perusahaan minyak besar lainnya sebagai “profiteer perang”. Mereka mendesak pemerintah untuk mengenakan pajak atas laba Shell guna membantu keluarga yang kesulitan akibat krisis biaya hidup dan dampak perubahan iklim.
Perlu dicatat, perang di Iran baru dimulai pada 28 Februari 2024, yang relatif terlambat dalam kuartal pertama. Meski demikian, harga minyak langsung melonjak dan tetap tinggi hingga saat ini.