Bayangkan masa depan di mana industri film tidak lagi membutuhkan mobil asli untuk produksi film atau acara televisi. Bayangkan jika kecerdasan buatan (AI) dapat menciptakan mobil virtual yang tampak nyata, tanpa perlu repot mencari mobil kuno atau menghabiskan biaya besar untuk perbaikan dan perawatan. Itulah visi yang tengah dikejar oleh banyak pengembang teknologi saat ini.

Namun, kenyataannya, AI belum sepenuhnya siap untuk mengambil alih peran mobil asli dalam produksi film. Banyak gambar mobil yang dihasilkan AI masih memiliki cacat mencolok: pintu hilang, trim krom yang tidak simetris, atau setir yang ditempatkan di posisi aneh seolah-olah pengemudinya duduk di antara dua kursi depan. Bahkan, manusia yang melihatnya pun bisa dengan mudah mengenali ketidakakuratan tersebut.

Belum lagi fenomena video palsu yang marak beredar di media sosial. Video-video ini mengklaim menemukan mobil antik di gudang, rawa, atau tempat pembuangan sampah, lalu dengan ajaibnya memulihkannya dalam hitungan detik. Biasanya, video semacam ini menampilkan sekelompok wanita muda dengan jumpsuit mekanik yang serasi atau pria gagah di bengkel Eropa Timur yang terlalu bersih dan tidak realistis. Cacat yang mencolok pun mudah terlihat: cat sempurna tanpa penutup kaca dan krom, karat yang hilang seolah-olah disentuh tongkat sihir, dan mesin yang sebenarnya adalah gabungan dari beberapa mobil dengan gaya yang tidak pernah diproduksi pabrik.

Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan AI akan terus maju. Suatu hari nanti, AI mungkin akan mampu menghasilkan mobil virtual yang hampir sempurna—bahkan sebelum industri film berhasil menggantikan penulis skenario, aktor, editor, sutradara, dan kru produksi. Dampaknya? Film dan acara televisi mungkin akan terasa semakin tidak autentik dan monoton. Namun, sejarah telah membuktikan bahwa penonton dapat menerima hal-hal yang tampak tidak nyata, seperti King Kong atau Godzilla, selama cerita dan efeknya menarik.

Salah satu area yang mungkin diuntungkan oleh AI adalah adegan kecelakaan. Di Octane Film Cars, perusahaan penyedia mobil film tempat saya bekerja, kami telah terlibat dalam bisnis yang sebelumnya tidak terpikirkan: menyediakan mobil untuk adegan kecelakaan. Meskipun mobil-mobil ini akan rusak parah, AI dapat membantu menciptakan simulasi kerusakan yang lebih efisien dan hemat biaya dibandingkan dengan menggunakan mobil asli yang mahal.

Namun, pertanyaannya tetap ada: apakah kita siap menerima masa depan di mana mobil dalam film hanyalah ciptaan digital? Apakah penonton akan tetap terpikat oleh visual yang semakin tidak nyata? Satu hal yang pasti, kita tidak memiliki pilihan selain beradaptasi. Dan mungkin, suatu hari nanti, kita akan terbiasa melihat mobil dalam film yang tidak pernah ada di dunia nyata.

Sumber: Hagerty