Sejak resmi melantai di bursa pada 2018, nilai Aston Martin mengalami penurunan drastis hingga 90%. Dua pekan lalu, perusahaan ini kembali mengajukan permohonan dana darurat untuk kedelapan kalinya sejak IPO. Pertanyaan pun muncul: berapa lama Lawrence Stroll masih akan setia mendukung Aston Martin?

Dari IPO hingga Krisis Keuangan

Ketika Aston Martin pertama kali go public pada 2018, perusahaan ini memiliki valuasi sekitar £4,3 miliar (setara $5,8 miliar). Namun, delapan tahun kemudian, valuasi tersebut merosot tajam menjadi hanya £430 juta (sekitar $584 juta). Meskipun sempat menerima suntikan dana besar dari miliarder Kanada, Lawrence Stroll, pada 2020, kinerja keuangan Aston Martin tetap tidak kunjung membaik.

Baru-baru ini, Aston Martin kembali mengajukan permohonan dana darurat dan berhasil mendapatkan £50 juta (sekitar $67,9 juta) dari konsorsium investor yang dipimpin oleh Stroll. Namun, kerugian sebelum pajak perusahaan ini justru meningkat 25% pada tahun lalu, mencapai £364 juta (sekitar $494 juta).

Geely: Penyelamat atau Ancaman?

Stroll, melalui konsorsium Yew Tree, saat ini menjadi pemegang saham terbesar Aston Martin dengan kepemilikan 31%. Sementara itu, Geely, raksasa otomotif asal China, berada di posisi ketiga dengan sekitar 17% saham, di bawah dana investasi Saudi. Geely sendiri telah menjadi pemegang saham mayoritas Lotus dan menyelamatkan London Taxi Company pada 2013 dengan mengubahnya menjadi LEVC.

Meski Geely dikenal memiliki ketertarikan terhadap mobil-mobil Inggris, kinerja perusahaan-perusahaan di bawah naungannya tidak selalu membaik. Lotus baru-baru ini mengumumkan pemutusan hubungan kerja terhadap lebih dari 500 karyawan di pabrik Hethel dan mencatat kerugian £195 juta (sekitar $264 juta) pada paruh pertama 2025.

"China memiliki biaya produksi terendah di dunia, dan model bisnis klasik mereka adalah pergi ke mana uang berada. Kami mungkin tidak menyukainya, tetapi dalam banyak hal, itu adalah langkah yang cerdas."
— Seorang pemasok Aston Martin kepada The Telegraph

Apakah Geely Akan Menyelamatkan Aston Martin?

Jika Geely memutuskan untuk menyelamatkan Aston Martin, kemungkinan besar perusahaan ini akan memindahkan sebagian besar produksi ke China untuk menekan biaya. Namun, langkah ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor. Geely diketahui telah mengurangi kepemilikan sahamnya di Aston Martin dari sekitar 17% menjadi 14%, sementara saham Mercedes telah turun dari 20% menjadi kurang dari 8%.

Andy Palmer, mantan bos Aston Martin, justru mendorong perusahaan untuk membuka diri terhadap kerja sama dengan investor China. "Mereka mungkin 10 tahun lebih maju dari kami dalam hal teknologi dan efisiensi," katanya.

Masa Depan Aston Martin yang Tidak Pasti

Dengan terus menurunnya nilai perusahaan dan kerugian yang semakin membesar, masa depan Aston Martin terlihat semakin tidak pasti. Apakah Geely akan menjadi penyelamat, atau akankah perusahaan ini terus terpuruk? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Sumber: CarScoops