Kota Lake Charles di Louisiana, Amerika Serikat, dan kawasan Verde Island Passage di Filipina, kini menjadi sorotan akibat proyek pengembangan gas alam cair yang mengancam kehidupan masyarakat pesisir. Dua wilayah ini, meski terpisah ribuan kilometer, terhubung melalui jalur laut yang membawa dampak lingkungan lintas benua.

Kolaborasi antara Climate Listening Project dengan inisiatif Protect This Place menyoroti perlawanan komunitas nelayan dan aktivis lingkungan di kedua wilayah tersebut. Melalui film dokumenter pendek, mereka menyuarakan ancaman nyata yang mengintai ekosistem laut dan mata pencaharian masyarakat.

Verde Island Passage: Surga Laut yang Terancam

Verde Island Passage dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Kawasan ini terletak di jantung Segitiga Karang dan menjadi rumah bagi lebih dari 1.700 spesies ikan pantai—jumlah terbanyak di Bumi. Namun, proyek impor gas alam cair kini mengancam kelestarian ekosistemnya.

Sebuah tumpahan minyak baru-baru ini meninggalkan jejak polusi yang merusak air, satwa liar, dan kehidupan masyarakat setempat. Saya menyaksikan langsung sisa-sisa minyak yang menempel di bebatuan dan menyadari betapa rapuhnya lingkungan ini terhadap eksploitasi industri.

Louisiana: Tradisi Nelayan yang Terancam

Di sisi lain, masyarakat Louisiana sangat bergantung pada laut. Setiap tahun, perayaan Mardi Gras menjadi simbol persatuan, sementara hidangan laut seperti udang, kepiting, dan gumbo menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya lokal. Banyak penduduknya adalah nelayan yang kini menghadapi ancaman serius akibat polusi industri.

Saat berada di Lake Charles, saya menyaksikan asap tebal dari pabrik pengolahan gas fosil. Tanda peringatan juga terpampang: “Polusi ditemukan di dalam kepiting.” Ancaman ini tidak hanya lokal—gas dari Louisiana dikirim melalui kapal-kapal besar, melintasi Samudra Atlantik, melewati Terusan Panama, dan akhirnya mencapai kawasan Segitiga Karang di Asia Tenggara.

Roishetta Ozane: Aktivis yang Menghubungkan Dua Dunia

Lima tahun lalu, saya menghadiri pertemuan komunitas yang dipimpin oleh Roishetta Ozane, pendiri Vessel Project of Louisiana. Ia tidak hanya memperjuangkan keadilan lingkungan di wilayahnya, tetapi juga membangun jaringan global untuk melawan dampak ekspor-impor gas.

Melalui film dokumenter berjudul “Gulf Coast Love Story”, kami mendokumentasikan perjalanan dari perbatasan Texas hingga New Orleans. Masyarakat berbagi cerita tentang dampak gas alam cair terhadap udara, air, dan masa depan mereka. Mereka juga membayangkan masa depan dengan energi bersih, udara segar, dan komunitas yang sehat.

Perjuangan Ozane tidak berhenti di Louisiana. Ia telah membawa suara masyarakat ke Washington, D.C., bergabung dengan Jane Fonda dalam gerakan Fire Drill Friday. Keterlibatan Fonda dalam film terbaru “Gaslit” turut menyoroti perlawanan para aktivis garis depan, termasuk Ozane, yang terus berjuang melawan industri fosil.

“Kami tidak hanya melawan polusi, tetapi juga melawan sistem yang mengabaikan suara masyarakat pesisir. Kami ingin masa depan yang bersih dan adil bagi anak cucu kami.” — Roishetta Ozane

Dampak Global, Perlawanan Lokal

Meskipun ancaman datang dari proyek ekspor-impor gas, masyarakat di kedua wilayah ini menolak menyerah. Mereka membentuk aliansi lintas negara, berbagi pengalaman, dan mencari solusi bersama untuk melindungi laut dan sumber daya alam.

Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, perlawanan ini menjadi simbol harapan bagi generasi mendatang. Melalui film, aksi kolektif, dan pendidikan lingkungan, mereka menunjukkan bahwa perlindungan terhadap bumi adalah tanggung jawab bersama.