OpenAI Diduga Melanggar Privasi dengan Berbagi Data ke Meta dan Google
Sebuah gugatan class action baru diajukan di California pada 14 Mei 2026, menuduh OpenAI secara ilegal membagikan data pribadi pengguna kepada Meta dan Google tanpa persetujuan yang memadai. Menurut tuntutan hukum tersebut, OpenAI diduga melanggar California Invasion of Privacy Act (CIPA) dan Electronic Communications Privacy Act melalui integrasi dengan layanan pelacakan data seperti Meta Pixel dan Google Analytics.
Dalam gugatan tersebut, disebutkan bahwa ChatGPT diduga membagikan topik obrolan, ID pengguna, dan alamat email pengguna kepada kedua perusahaan teknologi tersebut. Praktik ini, yang oleh banyak pihak disebut sebagai "kapitalisme pengawasan", menjadi model bisnis yang mendasari sebagian besar internet modern.
Data Pribadi yang Berisiko Tersingkap
ChatGPT, sebagai layanan chatbot yang semakin populer, digunakan oleh jutaan orang untuk berbagai keperluan, mulai dari dukungan emosional hingga konsultasi kesehatan mental. Banyak pengguna bahkan menganggapnya sebagai teman, penasihat, atau bahkan pasangan virtual. Hal ini membuat data yang dibagikan menjadi sangat sensitif, karena obrolan pengguna dapat mencerminkan kehidupan pribadi, kesehatan, keuangan, hingga masalah hukum mereka.
Pengguna sering kali tidak menyadari bahwa interaksi mereka dengan ChatGPT dapat dimanfaatkan untuk kepentingan komersial. Baru-baru ini, OpenAI mulai memasukkan iklan dalam layanan ChatGPT, yang semakin menegaskan bahwa layanan tersebut mengumpulkan dan memanfaatkan data pribadi pengguna.
"Ketika Anda berinteraksi dengan chatbot yang seolah-olah menjadi manusia, mudah untuk melupakan bahwa itu sebenarnya adalah produk yang menyedot, menyimpan, dan membagikan informasi pribadi Anda."
Reaksi dan Kasus Serupa Sebelumnya
OpenAI belum memberikan tanggapan resmi atas gugatan tersebut. Namun, kasus ini bukanlah yang pertama melibatkan perusahaan AI dalam sengketa terkait privasi dan iklan bertarget. Pada awal tahun ini, gugatan serupa diajukan terhadap Perplexity, meskipun akhirnya dicabut secara sukarela. Gugatan tersebut menyoroti bahwa seorang pengguna mengandalkan layanan tersebut untuk nasihat hukum dan keuangan tanpa menyadari bahwa informasi sensitifnya dibagikan kepada Google dan Meta melalui teknologi pelacakan seperti Meta Pixel dan Google DoubleClick.
Implikasi bagi Masa Depan Privasi Digital
Kasus ini menyoroti semakin tipisnya batas antara ruang pribadi dan publik di dunia digital. Meskipun banyak pengguna menyadari bahwa data mereka dikumpulkan oleh platform media sosial, tidak semua menyadari bahwa layanan AI seperti ChatGPT juga dapat memanfaatkan data pribadi mereka tanpa persetujuan eksplisit. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana perlindungan data yang lebih ketat dapat diterapkan di era AI yang semakin berkembang.